Berbagai manuver dilakukan oleh tim sukses para kontestan untuk menyerang lawan atau sekadar mencari perhatian publik. Mulai dari saling serang di media perihal isu agama, hingga isu dugaan pemilu curang lantaran KPUD di beberapa daerah menyebarkan soasialisasi penyontrengan yang dianggap menguntungkan pasangan capres-cawapres tertentu.
Para capres-cawapres pun tak jarang saling sindir saat kampanye di berbagai daerah. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya. Dalam berbagai kesempatan dia sering menyindir rivalnya, Megawati Soekarnoputri yang menjual aset saat menjabat sebagai presiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capres lain, Jusuf Kalla tak kalah pedas menyindir. Dalam berbagai kesempatan dia sering menyindir SBY, yang sampai saat ini masih menjadi bosnya. Terakhir, di hadapan para pengusaha di Kalimantan dia bercerita pernah marah besar kepada Boediono, cawapres SBY.
"Kemarahan pertama karena pembangunan listrik proyek 10.000 megawatt untuk masyarakat banyak. Saat itu karena tidak ada duit, maka dibutuhkan penjaminan dari pemerintah, tapi Boedino tidak mau kasih. Puncak kemarahan saya di situ," ujar Jusuf Kalla, Sabtu (27/6/2009) kemarin.
Pernyataan JK ini berpotensi menimbulkan kontroversi. Apalagi, JK juga menceritakan, dia sampai menggedor meja, menahan amarah membara kepada mantan Gubernur BI tersebut.
Meski tidak secara jelas menyerang Boediono, cerita JK Ini diduga ada motif politiknya.
Di lain pihak, Boediono sempat dilarang masuk ke ruang VIP Bandara Ngurah Rai oleh Pemda Bali. Padahal, cawapres lain seperti Wiranto dan Prabowo diperkenankan masuk. Larangan ini dianggap kubu SBY sebagai bentuk diskriminasi.
Hal-hal di atas sepertinya akan terus didramatisir oleh para tim sukses sehingga akan semakin menambah panas suhu politik menjelang 10 hari penyontrengan. Apalagi, masing-masing tim sukses saling melaporkan ke polisi lantaran dianggap mencemarkan nama baik. (anw/anw)










































