"Kemarahan pertama karena pembangunan listrik proyek 10.000 megawatt untuk masyarakat banyak. Saat itu karena tidak ada duit, maka dibutuhkan penjaminan dari pemerintah, tapi Boedino tidak mau kasih. Puncak kemarahan saya di situ," ujar Jusuf Kalla di hadapan anggota Asosiasi Pengusaha Nasional (Apindo) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (27/6/2009).
Beberapa waktu kemudian, menurut JK, saat gejala krisis moneter kembali terjadi di Indonesia, beberapa bank meminta kepada pemerintah untuk diberikan penjaminan.
"Saat menghadap saya, orang tersebut ngomong bahwa itu adalah sudah perintah atasan. Hampir saya lempar kertasnya, akhirnya saya pukul meja saja," kata pria berdarah Bugis ini saat menceritakan kejadian tersebut.
Lebih lanjut, JK menceritakan kekecewaanya terhadap kejadian tersebut. Alasannya, kenapa kebijakan untuk kepentingan rakyat malah ditolak.
"Saya tidak mau mengulangi kasus BLBI. Tidak usah berpikir neolib, lihat
tindakannya waktu listrik pakai tidak setuju, saat moneter semua bank minta
pinjaminan dan diberikan," ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, JK memberikan beberapa pokok permasalahan ekonomi yang ingin diselesaikannya jika nantinya terpilih menjadi pemimpin negeri ini.
"Pertama, bunga modal kita tinggi dibanding negera lain dengan jumlah 14 hingga 18 persen, kedua, listrik kita kurang, ketiga, infrastruktur kita tidak kita pikirkan, dan yang keempat, birokrasi kita yang lambat," sebutnya.
Kebijakan yang tidak tepat membuat perekomian bangsa Indonesia tidak dapat maju.
"Kita terlalu mengutamakan penjualan ke luar negeri dari pada ke dalam negeri," pungkasnya. (fiq/anw)











































