Bu Sugimin, Pengasuh Mega Kala Yogyakarta Mencekam

Bu Sugimin, Pengasuh Mega Kala Yogyakarta Mencekam

- detikNews
Kamis, 25 Jun 2009 10:22 WIB
Bu Sugimin, Pengasuh Mega Kala Yogyakarta Mencekam
Jakarta - Selalu dekat orang yang disayangi, seperti suami, anak, dan cucu adalah dambaan bagi siapa pun yang sudah uzur. Di tengah minimnya kegiatan karena keterbatasan fisik, mungkin kehangatan bersama mereka adalah segalanya, lebih dari harta yang dimiliki.

Namun apa yang dialami Ibu Sugimin (84), jauh dari harapan itu. Harta pun tak punya, suami telah lama meninggal, dan  anak cucu pun jauh di perantauan.

"Anak saya paling dekat di Bantul," katanya.

Di rumahnya di Kampung Bintaran, Kelurahan Wirogunan, Yogyakarta, Bu Sugimin hidup sebatang kara di rumah  berukuran 4x7 meter, beratapkan seng dan tidur di sebuah kasur kapuk tanpa dipan. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan usaha warung kelontong seadanya yang ia miliki.

"Kalau nggak punya uang ya para tetangga yang  membantu," kata dalam bahasa Jawa.

Namun demikian, harapan itu agak sedikit terobati oleh kunjungan Megawati Soekarnoputri ke rumahnya di bantaran kali Code itu. Bu Sugimin adalah orang cukup berjasa buat Mega.

Saat perang revolusi kemerdekaan 1949, dan ibukota RI dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, peperangan fisik antara tentara RI dan NICA adalah makanan sehari-hari Kota Gudeg itu. Di tengah ketidakpastian tersebut, bayi Mega yang kala itu berumur 2 tahun pernah dititipkan kepada Bu Sugimin.

Saat dikunjungi Mega, air mata Bu Sugimin pun meleleh. Peluk dan cium menjadi bukti adanya suatu ikatan batin yang belum lekang sejak puluhan tahun lalu yang mencekam itu.

Belum sempat air mata itu mengalir lebih deras, wajah Bu Sugimin sudah bersinar seolah tak percaya melihat anak yang pernah diasuhnya dulu datang menyambanginya.

Mega pun sempat menanyakan mengapa mantan ibu asuhnya itu tidak menjual saja rumahnya dan tinggal bersama anak cucunya yang dicintai.

"Emoh. Ini peninggalan bapak. Nanti kalau anak cucu mau ke Jogja, tidak ada tempat singgah. Tidak mampu nginep di hotel," jawabnya.

Saat asik melepas rindu, Mega sempat iseng membuka dompet yang kebetulan tergeletak di meja di sebelahnya. Putri Bung Karno itu mendapatkan uang Rp 10 ribu di dompet yang sudah lusuh itu.

"Uang Ibu tinggal segini?" tanya Mega.

"Iya, kalau nggak punya uang, tetangga yang bantu," katanya sambil terkekeh.

Sujadi, anak Bu Sugimin yang kebetulan sedang berkunjung, mengatakan ibunya tidak pernah absen jika Megawati menggelar kampanye di Yogyakarta.

Namun kali ini, dalam kampanye terbuka di Alun-alun Utara Kraton, pada Rabu 24 Juni 2009,Bu Sugimin tidak bisa hadir karena kondisi fisik yang semakin tak memungkinkan.

Bu Sugimin pun sangat tahu Mega akan bertarung kembali dalam Pilpres 2009. Ia mengaku selalu berdoa agar Mega bisa kembali menjadi presiden RI.

"Nyuwun pangestu Bu," kata Mega sambil mencium tangan Bu Sugimin seraya pamit.

Air mata pun kembali meleleh di mata keduanya. Setelah itu, tak terdengar jelas apa yang Bu Sugimin katakan karena suara yang terhambat isakan. Mungkin poster Mega yang sedang tersenyum di salah satu sudut rumahnya bisa menenangkannya isaknya kemudian.

(lrn/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads