"Kalau itu disebut black campaign ya jelas salah, karena itu bukan isu. Kalau isu sumbernya nggak jelas, nah kalau ini sumbernya jelas ada di Majalah Monitor. Kalau tim sukses SBY dan Bawaslu mau investigasi, mau memanggil, diarahkan ke Majalah Monitor bukan ke JK. Ambil yang punya majalah itu dan tanyakan informasinya," kata anggota Tim Sukses JK-Wiranto, Burhanuddin Napitupulu, saat berbincang dengan detikcom melalui telepon, Kamis (25/6/2009).
Burnap, demikian disapa, menjelaskan duduk persoalan yang kemudian dijadikan alasan tim sukses SBY-Boediono melaporkan JK ke Bawaslu. Masalah berawal dari komentar guru besar Universitas Tarumanegara yang pernah sekantor dengan Boediono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Burnap kemudian menyampaikan detail mengenai Majalah Monitor. Menurut Burnap, majalah ini dimiliki oleh sejumlah politikus Tanah Air. Harganya yang murah membuat majalah ini laris dan cepat menyebar di kalangan masyarakat luas.
"Monitor itu majalah milik Adrinov Chaniago, Faisal Basri, Sobari dan kawan-kawan, harganya murah cuma Rp 3000, jadi bisa saja mudah menyebar ke masyarakat, karena itu memang dipasarkan," ungkap Burnap.
"Kalau lantas dibilang black campaign ya jelas salah sasaran, mereka hanya menggali-gali lubang saja, memang mendekati pemilu informasi sekecil apa pun dikejar," tegasnya.
Tim Sukses SBY-Boediono akan melaporkan Jusuf Kalla (JK) dan tim suksesnya ke Bawaslu terkait isu istri Boediono beragama Katolik. JK dan tim suksesnya dinilai menyebarkan black campaign yang overload. (van/nrl)










































