"Debat malam ini belum memperlihatkan pertandingan ide. Konsep jati diri bangsa terlalu diikatkan pada sejarah masa lalu, semua cawapres terkesan proteksionis. Padahal jati diri bangsa itu tidak final. Ia tumbuh dalam generasi. Adalah hak generasi baru mengisinya dengan ide-ide baru," ujar Pengamat Politik UI Rocky Gerung dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Rabu (24/6/2009).
Selain itu, lanjut Rocky, peran moderator yang tidak fokus membuat topik melebar sehingga paparan para cawapres tidak menjawab inti persoalan.
"Ketiga topiknya bahkan meluas ke mana-mana karena moderator melebarkannya pada soal-soal konflik sosial, fanatisme daerah, dan kecelakaan transportasi. Jadi bukan pendalaman konsep jati diri tapi pelebaran ke soal-soal yang lain yang relevansinya terlalu dicari-cari. Akibatnya sampai akhir usai tidak juga jelas apa itu jati diri bangsa," jelasnya.
Rocky menjelaskan, topik yang diangkat dirasa tidak cocok diperdebatkan oleh cawapres. Sebab simbol pemimpin itu presiden, bukan wakil presiden.
"Sebagai topik debat seharusnya calon presiden yang mengulas ini karena dialah yang akan memimpin bangsa ke depan. Wapres bukan memberi visi jati diri bangsa," tandasnya.
(ape/sho)











































