Pantauan detikcom di Studio SCTV, Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2009), Wiranto yang mengenakan baju polos lengan panjang mendapat jatah terakhir untuk memaparkan visi misi. Saat menyapa hadirin, Wiranto hampir lupa menyebut nama Boediono.
Dalam pembukaannya, Wiranto menyapa cawapres Prabowo, KPU, dan para hadirin. Namun dia lupa menyapa salah satu kompetitornya, Boediono. Setelah sempat tampak agak grogi, Wiranto akhirnya ingat untuk menyapa Boediono.
Setelah menyapa para hadirin, Wiranto mengawali pemaparannya dengan kutipan lagu Indonesia Raya. "Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya," nyanyi Wiranto dengan nada resmi lagu Indonesia Raya.
Dia menyebut, bangsa yang tidak memiliki jati diri tidak akan punya martabat dalam bergaul dengan dunia luar. Karena itu harus ada upaya cepat untuk membangkitkan jati diri bangsa.
"Tidak mudah mewujudkan jati diri bansa. Dibutuhkan kebersamaan dari seluruh masyarakat. Dibutuhkan kepemimpinan yang lebih cepat berpikir, lebih cepat betindak, dan lebih berani mengambil keputusan yang berisiko tinggi," kata Wiranto seraya tak lupa menyinggung slogannya bersama Jusuf Kalla (JK), lebih cepat lebih baik.
Sebagai penutup, Wiranto kembali nembang. Kali ini lagu yang dia bawakan adalah Ibu Pertiwi.
"Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati. Kini ibu sedang lara, meratap dan berduka," demikian lantunan lagu cawapres JK tersebut.
Sementara Boediono yang mendapat jatah kedua menekankan pentingnya pendidikan kebudayaan nasional, politik nasional, ekonomi nasional, dan penegakan hukum nasional. Menurutnya, pembangunan dalam hal pendidikan dan kebudayaan dimulai dengan mempertahankan aset-aset berharga seperti menjaga bahasa nasional.
Dalam bidang politik, Boediono mengutip pernyataan proklamator Bung Hatta untuk memuji sistem demokrasi. "Bung Hatta pernah mengatakan kebangsaan kita akan lestari jika menerapkan demokrasi dengan tepat," jelasnya.
(sho/nrl)











































