Demikian analisa Ketua DPP Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum mengenai hasil jajak pendapat Puskaptis bahwa elektabilitas SBY-Boediono terus menurun. Analisa itu disampaikannya pada detikcom, Senin (22/6/2009).
"Kampanye negatif tidak mengkhawatirkan. Kampanye hitam dan fitnah bisa jadi ada pengaruhnya," ujar dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan kampanye negatif yang cenderung hitam juga tidak kalah gencarnya. Seperti isu kenaikan harga tanpa menjelaskan faktor inflasi dan kenaikan pendapatan serta bertambahnya utang padahal rasionya turun drastis dari 57% GDP pada 2004 menjadi 32% pada 2009.
"Masalah yang masih ada selalu diangkat, yang positif diabaikan," papar Anas.
Tetapi secara umum kampanye negatif dinilai tidak banyak pengaruhnya terhadap konstituen SBY-Boediono. Metode penanganannya pun relatif lebih mudah dibanding kampanye hitam karena tinggal memaparkan data-data berupa angka dan fakta hasil-hasil pembangunan yang sebenarnya dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
"Secara selektif, kita klarifikasi karena tidak semuanya perlu dijelaskan. Rakyat, khususnya kalangan menengah punya kemampuan untuk menyeleksi informasi," jelas mantan anggota KPU ini tentang langkah antisipasi ke depan.
Di dalam hasil jajak pendapat Puskaptis yang diumumkan pada Minggu (21/6/2009), pasangan SBY-Boediono memang masih berada di posisi teratas dengan dukungan 52,15 persen responden. Tapi posisi aman ini adalah penurunan dari jajak pendapat sebelumnya yang menyatakan SBY-Boediono didukung 57,39 persen.
Sementara, pasangan Megawati-Prabowo tetap berada di posisi kedua dengan perolehan 22,17 persen, turun sedikit dari survei sebelumnya yang meraih 24,26 persen. Pasangan Jusuf Kalla (JK)-Wiranto didukung oleh 17,20 persen responden, naik dari perolehan dukungan sebelumnya yang hanya 12,37.
(lh/iy)











































