"Sebaiknya dibuka kebebasan bagi moderator untuk memberi pertanyaan lanjutan yang sifatnya mendalami jawaban para capres. Mungkin itu akan mengubah suasana debat dan bisa tergali apa yang sebetulnya diharapkan dari calon yang bukan normatif," kata Koordinator Komite Pemilih (Tepi) Indonesia, Jeirry Sumampow, saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2009).
Menurut Jeirry, jika melihat para moderator yang ditunjuk, independensi mereka tidak diragukan. Tokoh-tokoh seperti Anies Baswedan dan Komarudin Hidayat bisa menjadi jaminan mereka akan bersikap independen dan tidak ada maksud menyudutkan calon tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau cuma seperti itu tak perlu orang sekelas Anies. Sangat disayangkan kemampuan Anies jadi tidak kelihatan," kata Jeirry.
Jeirry juga mengkritik KPU yang dengan gampang mengubah format karena permintaan dari para kandidat. Meski dalam UU diatur format dan moderator harus disepakati oleh KPU dan semua pasangan, namun tidak seharusnya KPU mau saja disetir. KPU sebagai penyelenggara tetap harus leading dalam menentukan format debat.
Sebelumnya KPU dan tim kampanye pasangan sudah menyepakati format debat. Dalam format awal itu, para capres di sesi ketiga akan diberi waktu untuk saling bertanya secara langsung. Namun format ini diubah menjelang debat digelar, yakni pada pagi harinya.
"Debat kandidat itu substansinya ada di situ, ketika satu calon bertanya ke calon lain. Lalu kok itu dihilangkan KPU. Ini menunjukkan KPU tidak percaya diri, sangat mudah dipengaruhi," tandas Jeirry.
(sho/mok)











































