Bapak Abun tak sendiri, ada 34 petani teh lainnya di area 5 hektar, Desa neglasari, Purwakarta, yang mengadukan hal serupa.
Dengan penghasilan Rp 6.000 per hari, Bapak Abun mengaku tidak dapat menyekolahkan anaknya, walaupun sudah terdapat sekolah gratis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bapak Abun menceritakan, selama ini sekitar 20 kg teh yang mereka petik hanya dihargai Rp 6.000 perhari.
Harga tersebut berbanding lurus dengan harga beli teh di pasaran yang tidak mengalami peningkatan dari tahun 1990.
"Yang jadi kendala harga (beli) mulai tahun 1990 sampai sekarang rendah.
Sementara biaya produksi tinggi," ujar pemilik perkebunan, Bapak Gito, Sabtu (20/06/2009).
Sementara itu, Boediono yang dicurhati menyatakan ke depannya akan lebih memperhatikan kondisi petani teh.
"Kami akan mencoba akan memperbaiki nasib petani teh," ujar cawapres berbatik coklat itu.
(amd/gah)











































