"Kultur di negara kita memang tidak terbiasa kandidat berdebat. Kita harus mengerti, capres-capres ini tidak akan memunculkan konflik terbuka," ujar
mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie.
Hal itu disampaikannya di sela-sela diskusi bertema "Kepentingan Komersial Versus Kesucian Agama Dalam Konteks Buddha Bar", di Gedung WTC Sudirman, Jl Jenderal Sudirman, Jumat (19/6/2009).
Acara debat capres tersebut menurut Jimly adalah kegiatan yang penting untuk perkembangan budaya politik baru dalam rangka pembelajaran demokrasi di Indonesia. Sehingga rakyat bisa menilai secara langsung bisa dipercaya atau tidak terhadap apa yang disampaikan para kandidat capres.
"Masyarakat juga harus jeli, teliti dan kritis. Jangan hanya yang dipidatokan saja yang dinilai tapi harus melihat apa yang sudah dilakukan," kata Jimly.
Jimly menambahkan, masyarakat jangan terpaku pada khotbah-khotbah para capres yang selama ini ditampilkan, namun melihat track recordnya juga.
"Sehingga ke depan, masyarakat memiliki kehati-hatian dalam menentukan pilihan pemimpinnya," tandasnya.
(mpr/iy)











































