"Sebagian besar pernyataan SBY sebetulnya merupakan reaksi atas serangan kandidat lain. Saya melihat SBY bicara secara santun," tutur Bima Arya Sugiarto, wakil ketua dewan pakar tim SBY-Boediono, pada detikcom, Kamis (18/6/2009) .
Melontarkan sindiran dan kritikan, memang bukan gaya SBY selama ini. Biasanya tugas menangkis serangan menjadi porsi personil tim sukses karena dianggap terlalu beresiko bila capres langsung yang melakukannya mengingat elektabilitasnya yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bima perubahan gaya SBY dalam kampanye merupakan hal positif. Sebab selain menggunakan bahasa yang santun, sindiran dan kritikan disampaikan dan dalam kampanye resmi. Bukan di forum selain kampanye sebagaimana dilakukan kontestan lain yang terkadang juga dalam kapasitasnya sebagai wakil dari pemerintahan.
"Soal model komunikasi, bukan menyerang tetapi gaya yang lebih lugas dan berani. Dia berani ambil resiko dengan gaya yang lebih berani," sambungnya.
Tapi tak urung perubahan gaya SBY di atas panggung kampanye menjadi kegelisahan di tim pemenangan. Mereka khawatir konstituen tradisional yang selama ini bersimpati pada karakter low profile SBY akan berpindah ke lain hati.
"SBY bukan seperti yang dulu lagi. Kami terus terang khawatir itu malah kontraproduktif," ujar pria yang bergabung dalam tim SBY sejak Pilpres 2004.
(lh/yid)











































