"Adalah realita politik ketika politik Machiavelli (devide et impera-red) dibalut oleh kesantunan. Itu bisa disebut juga khotbah tanpa kitab suci. Ada ketidakkonsistenan," kata anggota Komite Kebijakan Publik Kementerian Negara BUMN, Ismed Hasan Putro dalam diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (18/6/2009).
Menurut Ismed, khotbah tanpa kitab suci merupakan praktek pemunduran kitab suci sehingga dianggap berbahaya bagi masa depan demokrasi di Indoensia.
Partai Demokrat, imbuh Ismed, juga dianggap mengerahkan segala cara untuk memenangkan Pemilu Legislatif 9 April lalu. "Demokrat mengerahkan segala cara termasuk tipu muslihat untuk memenangkan pemilu kemarin. Tapi hasilnya cuma 20 persen," lanjut Ismet.
Dia menambahkan, pernyataan para tim sukses SBY yang optimistis menang Pilpres dalam satu putaran saja dianggap tidak masuk akal. Terlebih, komentar salah satu tim sukses SBY-Boediono, Suripto dari PKS yang menganggap jika Pilpres dua putaran akan menimbulkan kericuhan juga dianggap tidak masuk akal.
"Karena Pilpres bukannya diposisikan sebagai kompetisi politik, tapi konfrontasi politik," imbuhnya.
(anw/iy)











































