Fuad Bawazier : Iklan Satu Putaran Teror Politik

Fuad Bawazier : Iklan Satu Putaran Teror Politik

- detikNews
Kamis, 18 Jun 2009 12:46 WIB
 Fuad Bawazier : Iklan Satu Putaran Teror Politik
Yogyakarta - Iklan pemilu satu putaran yang digencarkan kubu SBY-Boediono dinilai sebagai sebuah teror politik. Hal itu juga merupakan refleksi ketakutan tim sukses SBY-Boediono pilpres akan berlangsung dua putaran.

"Itu teror politik karena ada kekhawatiran bila dua putaran SBy akan akan tergilas," tegas Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier dalam acara diskusi publik "Ekonomi untuk Rakyat : Ideologi Keberpihakan Pada Kaum Miskin versus Neloliberalisme" di gedung University Center (UC) kampus Universitas gadjah Mada (UGM), Kamis (18/6/2009).

Menurut Fuad bila pilpres berlangsung dua putaran akan mengakibatkan ketakutan, kepanikan bagi para pendukung SBY. Oleh karena itu, mereka kemudian gencar beriklan hanya satu putaran. "Satu putaran itu tidak logis atau tidak umum," kata salah satu ketua tim sukses pasangan nomor urut 3 itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fuad meminta semua pihak untuk mewaspdai bila pilpres berlangsung satu putaran. Alasannya dirinya khawatir terjadi berbagai kecurangan seperti yang terjadi pada pemilu legislatif pada April lalu. "Itu bohong belaka," katanya.

SBY juga Neoliberal

Dalam acara diskusi, Fuad mengatakan Presiden SBY sebenarnya juga merupakan penganut paham neoliberalisme. Hal itu terlihat dari pidatonya dan orang-orang yang dipilihnya. "Tapi kalau Bangsa Indonesia ini seneng-seneng aja, ya udah," kata Fuad.

Dia menjelaskan paham neoliberalisme itu berarti menjadikan semua aspek kehidupan mengikuti ekonomi pasar atau dikomersialkan. "Memang PBB naik, tapi peran negara jadi terabaikan," ungkapnya.

Fuad berpendapat semua sistem ekonomi itu baik, yang penting cocok tidaknya dengan kesejahteraan suatu negara. Paham yang sekarang dianut Indonesia saat ini tidak cocok, karena membuat Indonesia cenderung semakin miskin. Terbukti dengan pemerintahan selama 40 tahun, Indonesia semakin ditinggal negara lain.

Menurut dia, pemilu sekarang juga tanpa sadar telah menganut neoliberalisme. Pada tahun 50-an uang tidak menjadi masalah. Tapi sekarang ini, pemilu pun menjadi komoditas.

"Yang punya duit yang bisa menjaga supremasinya. Dalam paham neoliberalisme, yang kuat dan mempunyai uanglah yang menang. Paham ini mempunyai kecenderungan menciptakan ketidakberimbangan dalam suatu negara," katanya.

Fuad juga menceritakan peristiwa Bank Indover yang hampir kolaps yang bisa mengancam perekonomian Indonesia. Saat itu Boediono mengajukan anggaran sekitar Rp 7 triliun hanya untuk menyelamatkan bank seupil. Sementara masih banyak rakyat Indonesia yang kekurangan.

"Salah satu ciri orang-orang neolib itu ya tukang bohong," pungkas Fuad yang dulu menolak tegas rencana penyelematan bank tersebut.

(bgs/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads