Hal ini yang kerap dilakukan calon presiden Jusuf Kalla (JK). Tiap kali membuka acara-acara resmi, JK seringkali memberi isyarat nomor urutnya lewat pukulan gong, tanda dibukanya sebuah acara. Saat kampanye pemilu legislatif (pileg) lalu, JK memukuli gong dengan 23 pukulan.
Gong dipukul dua kali terlebih dahulu, setelah jeda sesaat ia lalu memukul gong sebanyak tiga pukulan. Tiap kali disebuah acara pukulan gong dimulai, para peserta langsung riuh disambut tepuk tangan. Terkadang secara spontan peserta berteriak "hidup 23". Nomor urut 23 adalah nomor urut Partai Golkar, yang dipimpinnya. Setelah Penetapan nomor urut pasangan capres-cawapres ditentukan KPU, pukulan gong di setiap acara pun berubah. Gong hanya ditabuhnya sebanyak 3 kali. Tanda nomor urut pasangan JK-Wiranto.
Pada pembukan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Senin 15 Juni kemarin misalnya, sebelum menabuh gong, JK sambil tersenyum langsung menanyai panitia yang berdiri di dekatnya. "Berapa kali?" ujar JK. Para peserta yang ikut mendengarnya pun ikut teriak "tiga kali Pak," diikuti tepuk tangan para peserta.
Hal yang sama dilakukan saat menutup Kongres HMI MPO di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya, bukan hanya lewat pukulan gong, JK kerap 'memainkan' simbol. Saat mengkampanyekan Partai Gokar, JK biasanya hanya memuji-muji warna kuning sebagai warna kemuliaan, lalu membandingkannya dengan warna lain seperti biru, merah dan hijau. Jikalau sudah seperti itu, para peserta yang mendengarkan seketika riuh dan ramai.
(gun/anw)











































