"Siapa pun pemenangnya dalam pemilu ini, mereka membutuhkan pemerintahan yang baik, terutama jajaran Depkeu yang tetap kredibel yang kapabel, kompeten, tidak menipu, tidak memberikan penyesatan kepada masyarakat. Karena mereka nanti harus meneruskan untuk bisa menjalankan perekonomian dan pemerintahan secara baik," ujar Sri Mulyani usai dipanggil Presiden SBY di Istana Negara, Senin (15/6/2009).
Sri Mulyani mengkritik capres-cawapres tertentu yang selama ini bersuara lantang mengatakan pemerintah makin punya banyak utang. Menurutnya, masalah utang tidak bisa ditanggungkan kepada pemerintah saja. Melainkan DPR juga ikut menggolkan utang luar negeri.
"Kalau yang satu mengatakan selama tahun ini ada penambahan utang, ya gak apa-apa, itu keputusan pemerintah dengan DPR, ada UU-nya. Jangan yang disalahkan satu yaitu Sri Mulyani sebagai Menkeu tidak becus, itu tidak benar, karena ada UU-nya," elak wanita cantik berkacamata ini.
Dia menambahkan, untuk mengelola keuangan negara, tidak bisa dilakukan dengan emosional. "Mengelolaan keuangan negara kan bukan berdasarkan emosi, bukan ilusi, angkanya ada, datanya ada, faktanya ada, historisnya ada, jadi saya tugasnya menyampaikan itu," imbuhnya.
Sekarang ada capres tertentu yang memanfaatkan, atau menyalahgunakan isu ekonomi untuk kepentingan politik? "Kalau kalimat memanfaatkan ya pasti, wong namanya lagi kampanye. Kalau menyalahgunakan saya rasa itu terlalu keras," elak Sri Mulyani.
Dia menambahkan, di pemerintahan negara-negara demokratis, setiap isu yang kemudian memunculkan atau muncul di dalam kampanye yang kemudian ada hubungannya dengan fakta obyektif, memang harus dikeluarkan fakta itu sebagai suatu basis untuk memberikan penilaian apakah statement dari siapa pun itu benar atau tidak.
"Kan kita pemilu tidak untuk membodohi rakyat, meninabobokan rakyat, menjanjikan sesuatu, pemilu adalah proses pemilihan, demokratis berdasarkan fakta obyektif," pungkasnya. (anw/ndr)











































