Tentu saja wacana ini langsung mendapat serangan balik dari dua kelompok pasangan capres-cawapres yang lainnya. Tim sukses pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo menilai wacana Pilpres satu putaran adalah suatu kecemasan pasangan SBY-Boediono yang popularitasnya kian merosot, selebihnya mengatakan wacana omong kosong.
Demikian sekelumit Diskusi Publik bertajuk 'Pilpres Satu Putaran: Fiksi atau Realitas?' di Restoran Warung Daun, Jl Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2009) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Barkah, bila Pilpres satu putaran, pertama, banyak dana yang bisa dihemat di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Kedua, ketidakpastian politik bisa dipercepat. Ketiga, rekonsiliasi atau harmonisasi politik saat pihak yang bersaing lebih cepat dilakukan.
Keempat, dalam Pilpres satu putaran saja, pemerintah lama untuk fokus mengurus kembali rakyatnya. "Jika dua putaran, pemerintahan sekarang akan pecah perhatiannya. Mereka akan kembali memikirkan strategi, dana, mobilisasiΒ dukungan yang membuat presiden, wapres dan menteri tidak berfungsi maksimal," jelasnya.
Pengamat politik UI, Rocky Gerung mengritisi upaya kelompok maupun tim sukses SBY-Boediono yang menggulirkan ide Pilpres satu putara. "Banyak lembaga yang memanipulasi politik dan sangat bahaya bila politik dikuasai advertaiment, yang berisi mengedarkan kecemasan dengan wacana Pilpres satu putaran," ujarnya.
Apalagi, lanjut Rocky, sejumlah lembaga survei menempatkan elektabilitas SBY-Boediono sekitar 70 persen. "Kalau nilainya sebesar itu, bubarkan saja Tim Sukses SBY-Boediono, buat apa? Kalau sudah dapat segitu ada tim sukses," tegasnya.
Alasan Pilpres Satu Putaran untuk menghemat anggaran dan lain-lain, justru menurut Rocky, malah memangkas hak politik rakyat. "Ini bodoh! Jangan dibalik, ini kumpulan omong kosong," tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris FPDIP DPR yang juga Tim Sukses Mega-Prabowo, Ganjar Pranowo melihat adanya kecemasan yang luar biasa dari SBY-Boediono, terutama ketika menanggapi berbagai isu, seperti kasus Butet, BLT. SuasanaΒ kepanikan ini diciptakan agar terkesan SBY-Boediono 'dikeroyok', seperti kasus SBY di Pilpres 2004.
Sedangkan, Indra J Piliang yang menjadi bagian Tim Sukses JK-Wiranto menilai, bila patokannya penyelenggaran Pilpres satu putaran atas hasil sebuah lembaga survei sangat tidak relevan. Dari sisi metodelogi hampir semua lembaga survei tidak ada yang bisa memastikan kemenangan SBY-Boediono di 17 Provinsi.
"Tapi yang dilakukan per zona, zona Sulsel misalnya ketiga capres-cawapres terbagi beberapa persen dan juga daerah lainnya. Apalagi kalau responden yang diambil hanya 1.000 atau 2.500 orang, karena itu tidak mewakili seluruh masyarakat Indonesia, di wilayah terpencil sekalipun seperti di Papua. Secara metodelogis tidak ada yang bisa mempertanggungjawabkannya," ungkapnya.
Dari kubu SBY-Boediono, Patrialis Akbar mengatakan, di dalam konstitusi yang berlaku saat ini hanya disebutka pilpres itu dilakukan satu putaran bukan dua putaran. "Jadi kita jangan sinis, bila ada masyarakat ingin satu putaran, itu prinsip dasarnya," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Tim Sukses SBY-Boediono lainnya, Ferari Romawi yang menegaskan, pihaknya tidak pernah secara resmi menyatakan Pilpres satu putaran. "Kalau ada harapan bisa satu putaran, ya itu wajar-wajar saja. Kalau ada yang ingin dua putara silakan, satu putaran silakan, kan wajar saja," pungkasnya.
(zal/ndr)











































