"Kami mengajak para elite politik untuk tidak melakukan cara-cara kampanye yang mencederai proses demokrasi. Sangat tidak baik rakyat diberi tontonan yang tidak mencerdaskan dan mencerahkan," kata Marwan kepada detikcom, Senin (15/6/2009).
Menurut Sekretaris FKB DPR ini, kampanye seharusnya menjadi pendidikan politik, bukan melakukan tindakan-tindakan yang kontroversial dan tidak produktif. Terlebih dimaksudkan untuk tujuan black compaign terhadap capres tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang kepercayaan Muhaimin Iskandar ini menilai kasus monolog Butet dalam acara 'Kampanye Damai' yang diselenggarakan oleh KPU adalah contoh bahwa kesenian sudah 'tersandera' oleh kepentingan politik sesaat. Akibatnya, nilai suci dari sebuah kesenian direduksi makna idealitas substansinya sebagai produk budaya.
"Kesenian menjadi 'kerdil' termasuk aktor-nya apabila digunakan hanya untuk mencederai lawan politik. Netralitas produk pudaya harus kita jaga untuk menyelamatkan identitas kebudayaan nasional kita secara berkesinambungan dari generasi ke generasi," paparnya.
Marwan menghimbau agar generasi muda tidak diberi suguhan yang tidak beretika dan tidak berkeadaban. Karena itu politik yang beradab dan beretika harus dijadikan pegangan semua pasangan capres.
"Stop politisasi kesenian dan kebudayaan nasional demi pemilu damai dan santun. Gema Saba meminta kepada Presiden SBY untuk melanjutkan dan mengawal heterogenitas budaya Indonesia. Gema Saba siap dibelakang Presiden SBY untuk mengawal itu semua," pungkas politisi yang suka berpanampilan pelontos ini.
(yid/ndr)











































