"Kemungkinan satu putaran menjadi lebih kecil oleh karena kampanye SBY kalah sama kampanye JK," tutur Arbi, saat berbincang dengan detikcom melalui telepon, Senin (15/6/2009).
Menurut Arbi peluang SBY terpilih kembali sebenarnya tidak kecil, jika saja SBY memperhatikan hal kecil saat berkampanye. Beberapa aktivitas kehidupan yang dominan di Indonesia sudah terlebih dahulu 'dimasuki' JK.
Arbi menilai, modal SBY cukup besar. Pertama, sebagai presiden incumbent dinilai berhasil oleh rakyat. Kedua, sebagai capres dari partai pemenang pemilu legislatif. Ketiga, partai yang mengusungnya banyak. Namun demikian fakta-fakta itu bisa saja berubah pada masa kampanye pilpres.
"Dari penampilan massa, menarik media massa, aktivitas di kalangan intelektual dan pedagang, kampanye JK lebih baik," jelasnya.
SBY Kedodoran
SBY-Boediono diprediksi akan kedodoran menghadapi JK-Wiranto jika pemilihan presiden (pilpres) berlangsung dua putaran. Hal ini disebabkan dukungan Mega-Prabowo diprediksi akan beralih ke JK-Wiranto.
"Apabila berlangsung dua putaran, SBY akan kedodoran karena JK dan Mega sudah menyusun koalisi besar untuk menghadapi SBY," kata Arbi.
Oleh karena itu, menurut Arbi, JK dan Mega akan berjuang sekerasnya untuk 'memaksakan' putaran kedua. Dengan cara ini mereka bisa 'menggulingkan' SBY dari tahta presiden.
"Makanya mereka menyerang habis-habisan incumbent supaya bisa masuk putaran kedua dan memiliki peluang lebih baik," ujar arbi.
Arbi punya alasan tersendiri memprediksi SBY-Boediono dan JK-Wiranto lolos putaran kedua pilpres. Menurut Arbi, perkembangan politik akhir-akhir ini mengarah pada presiden dan wakil presiden incumbent ini.
"Apabila pilpres berlangsung dua putaran, menurut saya JK dan SBY yang lolos, keduanya disurvei bagus akhir-akhir ini," bebernya.
(van/nrl)











































