"Trend kemungkinan menang SBY menurun dari sejumlah survei. Dari angka 70 persen sekarang dikisaran 63 persen. Artinya, sejak tanggal 1 Juni sampai 10 Juni ini ada 5 persen penurunannya," kata Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti kepada detikcom, Sabtu (13/6/2009).
Ray Rangkuti pun memprediksikan dalam tempo 20 hari ke depan atau mungkin pada bulan Juli mendatang, suara SBY berkisar di bawah 50 persen. "Ada banyak faktor penurunan ini. Pertama, lawan politiknya semakin gencar menarik massa. Kampanye mereka cukup menarik dan diminati," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang lebih penting lagi, Ray menambahkan, kampanye negatif (black campaign) yang diarahkan kepada pasangan SBY-Boediono pun sangat efektif. Di antaranya isu pasangan Pilkada, neo-liberalisme (neolib), non-muslim (jilbab), lamban dan sering tebar pesona.
"Tidak ada gagasan menarik dalam kampanye SBY, kecuali mengulang-ngulang yang basa-basi. SBY lebih sibuk untuk menjelaskan isu daripada menjelaskan apa yang mau dilakukan lima tahun ke depan. Lihat saja iklan kampanyenya, sama sekali tidak mengundang visi, seperti iklan Presiden Indomie dan antikorupsi yang berulang-ulang diputar di Pileg kemarin. Jadi, besar kemungkinan Pilpres juga akan berlangsung dua putaran," tuturnya.
(zal/irw)











































