Namun sayang, elektabilitas pasangan nomor urut 1 itu masih kalah dari SBY-Boediono. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pengamat komunikasi politik Effendi Ghazali menilai, Mega-Pro belum bisa menyampaikan isu-isu mereka ke dalam memori masyarakat.
"Dari segi isi dan isu, Mega-Pro sebenarnya kuat sekali, tapi tidak sampai ke memori orang, karena hal itu belum dilukiskan melalui iklan mereka," katanya.
Menurut Effendi, iklan politik pasangan Megawati-Prabowo terlalu panjang, di mana semua program langsung dipaparkan di dalamnya. Padahal, masih kata Effendi, iklan modern seharusnya lebih spesifik dan cukup pendek saja.
Seperti misalnya iklan tentang penghapusan UU BHP jika Mega-Prabowo terpilih, atau iklan tentang penghapusan outsourcing bagi para buruh. Dengan demikian visi dan misi mereka akan lebih mengena ke masyarakat, terutama kalangan mahasiswa dan buruh.
Meskipun demikian, Megawati-Prabowo masih memiliki banyak waktu untuk membuat elektabilitas mereka meningkat. Masih ada waktu 3 minggu sebelum pilpres berlangsung Juli mendatang.
"Sekarang ini yang satu cenderung menurun, sedangkan dua lainnya cenderung naik. Jadi masih ada waktu 3 minggu lagi dan ini sedang berproses," tandasnya.
(nvc/ken)











































