Demikian disampaikan pakar komunikasi politik dari UIN Bandung Asep Syaifullah Muhtadi dalam diskusi bertajuk 'Kontrak Politik' di Warung Daun', Jl Pakubuwono, Jaksel, Sabtu (13/5/2009).
"Jika publik puas, publik tidak akan minta kontrak-kontrak seperti itu," tegasnya.
Menurut Asep, kontrak politik yang dilakukan pasangan calon tertentu bisa jadi tidak mencerdaskan masyarakat, ketika presiden terpilih tidak memenuhinya. "Karena komitmen moral dalam kontrak sudah diabaikan," katanya.
Ketimbang terjadi pengabaian komitmen moral, lanjutnya, lebih baik masyarakat mendorong pasangan calon agar melaksanakan janjinya secara konsekuen.
Sementara itu, anggota Tim Sukses Mega-Prabowo Hasto Kristiyanto mengatakan, kontrak politik yang dilakukan pihaknya merupakan bagian dari usaha memenuhi keinginan rakyat yang 'berteriak' dari bawah. Mega-Prabowo sudah meneken kontrak politik dengan kaum buruh soal penghapusan sistem kerja kontrak (out sourcing) dan dengan mahasiswa terkait pencabutan UU Badan Hukum Pendidkan.
(lrn/djo)










































