"Bagi saya, Mas Butet adalah budayawan hebat, pahlawan aspirasi masyarakat, kali ini terkesan memprovokasi perseteruan," kata Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Rahman Toha Rahman dalam diskusi terbatas dengan wartawan di Jakarta, Kamis (10/6/2009) malam.
Menurut Rahman, suasana permusuhan, bukan lagi tercium tetapi sangat terasa saat deklarasi damai tersebut. Tentunya bukan hanya kontra-produktif, tetapi justru membuat seorang budayawan mendorong tindakan yang tidak berbudaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rahman menilai, sebenarnya kesalahan sepenuhnya tidak bisa ditujukan kepada Butet semata. Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga harus bertanggungjawab, sebab acara yang sudah jelas direncanakan tapi malah menciptakan rasa permusuhan dan saling curiga.
"KPU kecolongan, tidak profesional dan harus semakin diawasi agar kisruh pada Pileg tidak terulang pada Pilpres 2009," ujarnya.
KAMMI, lanjut Rahman, berharap para capres-cawapres melupakan kejadian itu dan bisa berdemokrasi dengan baik dan menarik serta bermanfaat bagi rakyatnya. Sebab, musuh bangsa Indonesia jelas, yaitu pecah-belah bangsa.
"Para capres dan cawapres jangan terpancing oleh provokasi ini, tetapi segera kembali kepada tujuan semula bahwa Pilpres 2009 untuk mencari pemimpin bangsa bukan untuk saling menghantam diantara bangsa Indonesia sendiri," tandasnya. (zal/mok)











































