Penampilan Butet tersebut disayangkan oleh Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary. "Memang seyogyanya hari ini adalah kampanye damai tidak menimbulkan perasaan tidak enak pada orang lain," kata Hafiz saat ditanya soal penampilan Butet di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (10/6/2009).
Anggota KPU yang lain, Andi Nurpati menilai, orasi Butet bukan merupakan bentuk provokasi atau pun serangan. Dia memandang hal itu sebagai sesuatu yang dikemas oleh masing-masing calon sesuai dengan ekspresi yang mereka inginkan untuk deklarasi pemilu damai.
"Bahwa ada eskpresi yang dinilai begitu ekspresif menurut saya wajar saja. Kami memang menyediakan waktu dan tempat untuk setiap pasangan calon menyampaikan atraksi seni dan memang kita tidak mengatur secara detil. Atraksi apa saja boleh," kata Nurpati.
Selain sindiran terhadap SBY, capres Megawati Soekarnoputri juga menyindir KPU yang dianggap tidak netral dalam menyelenggarakan pemilu.
"Saya bersyukur dengan koreksi-koreksi tadi. Saya berterimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan koreksi. Terhadap persoalan koreksi, ya kita buktikan saja nanti seperti apa," kata pria yang selalu memakai kopyah itu.
Soal kritikan Mega tentang KPU yang suka mengulur-ulur waktu, Hafiz membantah bahwa sebenarnya yang menentukan jadwal Deklarasi Pemilu Damai adalah ketiga pasangan capres-cawapres sendiri.
"Kok dibilang kita yang mundur-mundur. Contoh lagi, masing-masing dari mereka hanya diberi waktu 20 menit dalam orasi, tetapi kenyataannya kita bisa lihat sendiri kan seperti apa," kata Hafiz seolah menyindir balik pasangan Mega-Prabowo yang 'mencuri' waktu saat orasi dan penampilan seni budaya.
(anw/mok)











































