Kedatangan Boediono dan rombongan di Belawan, Medan, Selasa (9/6/2009)mendapat sambutan dari ratusan nelayan dan keluarganya. Bahkan warga berbaris menanti kedatangan rombongan Boediono di pinggir jalan.
Dalam kunjungannya yang pertama kali ke kawasan kumuh perkampungan nelayan ini, Boediono melihat langsung kehidupan warga masyarakat yang di bawah garis kemiskinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyatakan dapat memahami minimnya sarana dan alat yang dimiliki nelayan sangat berpengaruh dengan hasil tangkapan.
"Ketiadaan kapal yang dilengkapi sarana tangkap ikan yang memadai, tidak mungkin bisa mengangkat taraf hidup nelayan menjadi baik. Ini memang salah satu masalah yang harus kita ambil solusinya. Pemerintah mendatang akan memikirkan cara terbaik untuk membantu nelayan, misalnya memberdayakan program kredit lunak atau lain sebagainya," kata Boediono.
Selain mengeluhkan minimnya sarana dan alat tangkap ikan yang dimiliki, nelayan juga mengeluhkan maraknya perompak laut yang kerap beroperasi di lepas pantai pesisir timur.
"Para nelayan juga sering ketakutan melaut karena perompak sering menyandera kapal nelayan," ujar Hendri, salah seorang nelayan.
Dikatakan Hendri, upaya pemberantasan kaum lanun oleh aparat berwenang belum berhasil memberikan rasa aman bagi nelayan. Mereka sering tidak melaut beberapa minggu begitu ada kabar kapal nelayan menjadi korban perampokan di laut.
Hal senada juga diungkapkan Rudi Saragih. Menurutnya tidak sedikit kerugian yang dialami nelayan akibat keberadaan perompak laut. Mendengar isu perompak merajalela, nelayan sudah takut melaut. Akhirnya, nelayan juga yang rugi.
Di akhir pertemuan, para nelayan juga berpesan agar presiden dan wakil presiden terpilih, nantinya, tidak hanya mengumbar janji manis saat berkampanye. Jangan sampai setelah terpilih, nelayan kembali dilupakan.
(rul/nwk)










































