Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir alias SB saat berbincang-bincang dengan wartawan di Jakarta, Kamis (4/6/2009).
"Ini kan hanya situasional yang biasa terjadi setiap 5 tahun sekali menjelang pilpres. Nanti setelah Pilpres, semuanya akan selesai sendiri," kata SB.
Di sisi lain, sambung SB, dinamika politik yang terjadi tersebut membuktikan proses demokrasi di PAN berjalan dengan baik. Hal ini juga menunjukkan PAN bukan lagi partai yang bersandar pada figur tertentu.
"Jadi selama 4 tahun menjadi ketua umum, saya berhasil membangun pondasi yang kuat di PAN. PAN bukanlah partai yang mengandalkan figur tertentu," ujar SB.
Namun diakui SB, pada sisi lain kondisi tersebut membawa konsekuensi tersendiri bagi PAN. Salah satunya terkadang dinamika politik yang ada di PAN terlalu cair, terutama menjelang waktu-waktu tertentu seperti Pilpres.
"Seolah-olah ketua umum tidak bisa mengendalikan kadernya. Tapi yang namanya seolah-olah kan tidak benar, bukan keadaan yang sesungguhnya terjadi," kilah SB.
Sekadar diketahui, aroma perpecahan di tubuh PAN mulai terasa menjelang Pilpres. Hal itu berawal dari Rakernas PAN di Yogyakarta. Rakernas yang dimotori Ketua MPP PAN Amien Rais tersebut memutuskan PAN berkoalisi dengan Demokrat dan mengusulkan Hatta Rajasa sebagai cawapres.
Keputusan ini dinilai menciderai kesepakatan yang diambil dalam pertemuan SB-Amien sebelumnya. Pertemuan kedua tokoh tersebut menyepakati Rakernas Yogyakarta tidak akan menyebut nama cawapres yang akan diusulkan.
Dan belakangan, tidak semua kader PAN solid mendukung koalisi dengan Demokrat. Terlebih setelah SBY memilih Boediono sebagai cawapres, bukannya Hatta. Amien Rais secara terus terang menolak Boediono. Sedangkan beberapa kader lainnya, seperti Drajad Wibowo mendukung pasangan JK-Wiranto.
Sementara SB memilih melakukan aksi mogok bicara kepada publik. Sebelumnya disebut-sebut, kubu SB lebih cenderung berkoalisi dengan Gerindra.
(djo/iy)











































