Hal ini dikatakan pakar ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Revrison Baswir ketika berbincang dengan wartawan di Jakarta, Selasa (2/6/2009).
"Saya tidak mengomentari pada pasangan capres-cawapres-nya saja. Saya juga harus melihat orang-orang di sekitarnya. Jadi kalau di lingkungan SBY Boediono sudah jelas saya kira. Ekonom-ekonom yang berkumpul disana kadar neoliberalnya tinggi. Pemikir-pemikirnya cenderung neolib," tutur Revrison.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lalu liat tim ekonomi ekonomi yang lain, sejauh mana tim ekonomi yang
berkumpul di JK-Win dan Mega-Pro itu mempunyai kesempatan untuk berpikir berdasarkan konstitusi termasuk dalam merespon krisis yang terjadi sekarang," katanya.
Lebih lanjut, Revrison juga menegaskan kalau mazhab pemikiran tidaklah didasari oleh seseorang itu sederhana atau tidak. Tapi dilihat dari kebijakan yang diambilnya.
"Saya kira saya khawatir, jangan-jangan kalau kita bertemu Milton Friedman, bapaknya neolib di Chicago itu jangan-jangan lebih sederhana lagi. Jadi
jangan itu dong yang jadi ukuran. Tidak bisa," terangnya.
Menurut Revrison, krisis regional yang terjadi tahun 1998 hingga krisis yang terjadi di Amerika dewasa ini disebabkan oleh liberalisasi. Dampak liberalisasi bukan hanya bisa memporakporandakan Indonesia, bahkan negara
sedigdaya Amerika Serikat (AS), menurut Revrison bisa babak belur.
"Sejauh ini belum ada yang meng-addres krisis itu, apalagi mencoba untuk menarik hikmah, dari krisis demi krisis kemudian mengkaji dan kembali ke konstitusi," ucapnya. (gun/nwk)











































