Kagama Gerah Boediono Dituding Antek Asing dan Neolib

Kagama Gerah Boediono Dituding Antek Asing dan Neolib

- detikNews
Selasa, 02 Jun 2009 18:55 WIB
Jakarta - Berbagai tudingan soal antek asing atau penganut neoliberalis ditujukan untuk cawapres Boediono. Hal itu membuat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) geram.

Wadah untuk alumni Universitas Gadjah Mada itu tidak terima jika salah satu anggotanya terus menerus difitnah. Sekretaris Umum Kagama A Hamid Dipopramono menyebut tudingan-tudingan itu tanpa dasar.

"Banyak orang yang tidak paham teori ekonomi ikut mengomentari secara tidak proporsional. Banyak orang yang tidak tahu persis sepak terjang Boediono juga ikut berkomentar," kata Sekretaris Umum Kagama A Hamid Dipopramono dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (2/6/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hamid, selama ini pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu justru berdedikasi dan mengabdi penuh kepada kepentingan negara, bangsa, dan rakyat Indonesia. Baik lewat kebijakan-kebijakan yang prorakyat ketika menjalankan jabatannya maupun ajaran-ajaran ekonomi yang Pancasilais saat mengajar di kampus.

Dia kemudian mencontohkan kiprah Boediono bersama Mubyarto yang telah menerbitkan buku Ekonomi Pancasila pada 1981. Dalam bukunya tersebut, Boediono menyebarkan gagasan Sistem Ekonomi Pancasila yang jauh dari neoliberal dan jauh dari orientasi kepentingan asing. Mereka memperkenalkan dan mempopulerkan sistem ekonomi yang pas dan khas bagi Indonesia, yakni Sistem Ekonomi Pancasila.

Selama ini, selain sebagai dosen UGM yang berdedikasi, Boediono juga pernah menjabat Kepala Bappenas di Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004), Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2008), dan Gubernur Bank Indonesia (2008-2009). Dan selama kurun waktu itu Boediono telah bekerja dengan baik tanpa ada yang mempersoalkan.

Selama Boediono menduduki jabatan-jabatan tersebut, prestasinya cukup gemilang dan ikut menjadikan Indonesia menguat secara ekonomi. Jika pada tahun 1998 PDB Indonesia hanya US$ 95,5 miliar, maka di tahun 2008 meningkat menjadi US$ 467 miliar. Jika pendapatan per kapita US$ 771 pada tahun 2001, meningkat menjadi US$ 2,058 di tahun 2008. Rasio utang terhadap PDB pun turun dari 77% di tahun 2001 menjadi tinggal 34,7% di tahun 2008.

(ken/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads