"Sebenarnya jabat tangan itu bukan keinginan mereka berdua, tapi karena terpaksa harus berjabat tangan, karena program KPU," kata pengamat politik UI Maswadi Rauf saat dihubungi detikcom, Minggu (31/5/2009).
Menurut Maswadi, karena didorong oleh keterpaksaan dan bukan ketulusan, jabat tangan itu tidak bermakna banyak. Raut keengganan masih terbayang jelas di wajah keduanya, terutama Megawati.
"Kelihatan betul Mega ingin menghindar, lalu ditarik oleh orang-orang supaya mendekat. Sangat kelihatan keengganan Mega," tutur Maswadi.
Padahal yang diharapkan adalah kedua elit politik itu bisa bertemu dan berjabat tangan secara tulus dengan keinginan mereka sendiri. Dengan demikian barulah tercipta 'perdamaian' antara dua tokoh berpengaruh di Indonesia tersebut.
Meski begitu, menurut Maswadi, bukan berarti jabat tangan kemarin sia-sia belaka. Berawal dari keterpaksaan, diharapkan jabat tangan itu nantinya akan berubah menjadi tulus.
Jabat tangan terpaksa itu ibarat latihan bagi keduanya. Terlebih mereka masih memiliki 'momen memaksa' lainnya, yakni ketika debat capres yang berlangsung 3 kali di mana mereka juga diharuskan saling berjabat tangan.
"Paling tidak dengan terpaksa mereka mulai terbiasa. Kita harapkan jadi cair kebekuan itu sehingga bisa lebih mudah buat mereka," kata Maswadi.
(sho/sho)











































