"Bapak Presiden yang terhormat," ujar Khofifah saat memberikan laporan dalam Rapat Kerja Nasional dan Harlah ke-63 Muslimat Nadlatul Ulama (NU), di Hotel Horizon, Makassar, Jumat (29/5/2009). Ratusan hadirin spontan riuh dan bertepuk tangan. JK hanya mesam-mesem melihat insiden itu.
Khofifah langsung terdiam dan tersenyum saat menyadari ucapannya salah. "Saya mohon langsung diamini saja," katanya yang diikuti tepuk tangan hadirin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Muslimat NU juga harus meningkatkan pelayanan kepada umat berupa layanan yang lebih cepat mencakup fastabiqul khairat (berlomba-lomba menuju kebaikan). Karena bisa kita katakan, fastabiqul akhirat itu lebih cepat lebih baik," imbuh Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur ini.
Sementara itu Ketua PBNU Ahmad Bagja saat kebagian giliran berpidato menyinggung 'keseleo lidah' Khofifah.
"Ketua Muslimat NU salah sebut tapi beliau mengamini itu. Itu bisa diartikan sebagai doa. Doa seorang ibu itu bisa mengubah takdir," kata Ahmad disambut riuh hadirin.
Ahmad Bagja berharap Muslimat NU memberikan suaranya saat Pilpres.
"Jika Muslimat mendoakan seorang warga NU agar menjadi presiden insya Allah akan terwujud dengan ikhtiar. Tapi ternyata ikhtiar itu tidak cukup dengan tepuk tangan," katanya dengan terseyum.
Dia akhir pidatonya dia mengatakan, "Persoalan umat harus diselesaikan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya dan lebih cepat lebih baik."
(nik/nrl)











































