Saat menjelang deklarasi SBY-Boediono sebagai capres-cawapres pada 16 Mei lalu, PKS baru di detik-detik terakhir sepakat dengan cawapres Boediono setelah sebelumnya getol keberatan. Dan setelah SBY-Boediono dideklarasikan, PKS juga mengatakan bahwa dalam hati kader PKS, JK-Wiranto masih jadi promadona.
Terakhir, PKS melansir survei internalnya yang menyatakan bahwa popularitas SBY-Boediono merosot 10 persen. Pengurus PKS secara pribadi juga menyarankan istri jagoannya berjilbab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu adalah tindakan tidak disiplin, dan juga sebenarnya dialami beberapa partai lain," imbuhnya.
Arie mengatakan, bargaining-bargaining tersebut cuma sebatas artifisial saja. Sehingga partai pemimpin koalisi pendukung SBY-Boediono tak perlu menuruti semua apa yang diwacanakan oleh PKS.
Jadi apakah tidak lebih baik PKS keluar dari koalisi saja? "Mungkin PKS nggak berani karena tidak punya sekutu yang banyak. Karena partai Islam berguguran, dan itu spekulatif," kata pria kalem tersebut.
"Inilah koalisi pragmatis. Dia menggunakan lubang-lubang untuk mencari bargaining. Kalau koalisi pragmatis, pasti akan rapuh," imbuhnya.
Arie menambahkan, koalisi-koalisi akhir-akhir ini cuma sekadar pemanis saja. "Dan sebenarnya cuma transaksi-transaksi untuk memperoleh posisi," pungkas pria yangs edang menyelesaikan disertasi soal konstruksi ideologi partai politik, termasuk PKS.
(anw/nrl)











































