Orang Kepercayaan & Kawan Lama di Tim SBY-Boediono

Orang Kepercayaan & Kawan Lama di Tim SBY-Boediono

- detikNews
Jumat, 29 Mei 2009 09:36 WIB
Orang Kepercayaan & Kawan Lama di Tim SBY-Boediono
Jakarta - Memegang bukti, bukan janji. Nampaknya demikian prinsip yang diterapkan SBY saat membagi porsi kerja antar tim-tim kampanyenya dalam Pilpres 2009. Tugas terbilang sangat vital, dipercayakannya ke kawan-kawan lama yang telah mengantar dirinya memenangkan Pilpres 2004.

Lingkaran terdekat adalah mereka-mereka yang sedari lama punya kedekatan pikiran, pernah berkerja bersama, bahkan tetangga SBY di tempat tinggalnya di Cikeas. Saking lamanya kontak itu berlangsung sehingga secara tak sadar terbangun semacam ikatan moral di antara mereka.

Dimotori duet ayah-anak Suratto Siswodihardjo-Antor Sukartono dan Turino Yuliantono yang merupakan tetangga SBY di Cikeas, pada bulan April lalu mereka mendirikan Gerakan Pro SBY (GPS). Tim sukses ini menyasar para pemuda di pinggiran kota dan pedesaan melakukan berbagai aktivitas sosial untuk memenangkan pasangan SBY-Boediono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah tokoh bergabung dalam GPS. Beberapa di antaranya adalah Irsyad Sudiro (Ketua BK DPR, politisi Golkar), Sutanto (mantan Kapolri), Samuel Samson (sekjen PKPI), Lily Wahid (adik Gus Dur) dan MS Ka'ban (Menhut dan Ketum PBB).

"Kami bukan bagian dari tim kampanye Partai Demokrat (PD). Tapi ada koordinasi lah dengan tim yang lain," tutur Suratto, ketum GPS.

Sedangkan kelompok orang-orang lama sebagian besar adalah mantan rekanΒ  kerja SBY semasa berdinas di militer yang kini sudah purnawirawan. Sisanya adalah para mantan aktivis mahasiswa, parpol dan kalangan profesional non-partisan. Mereka dikumpulkan dalam sebuah LSM bernama Indoratu (Indonesia Raya Bersatu).

Tim ini yang dibentuk menjelang pemilihan umum legislatif 2004 itu bertugas membuka jalan bagi SBY dengan aktivitas intelijen, teritorial dan sosial-politik di berbagai daerah. Beberapa orang anggotanya adalah TB Silalahi (Anggota Wantimpres), Soeprapto, Amir Sembiring (mantan Sekretaris Utama Lemhannas), Irvan Edison (mantan Asisten KSAD), Djali Jusuf (Mantan Pangdam Sultan Iskandar Muda) dan Max Tamaela (Mantan Pangdam XVI/Pattimura).

Sejumlah mantan aktivis mahasiswa juga ada di situ, dua di antaranya adalah Aam Sapulete dan Herry Sebayang. Sesuai kapasitasnya, mereka bertugas menggalang dukungan dari organisasi-organisasi pemuda, kemahasiswaan dan ikatan alumni.

"Kami bukan dari PD, tapi membantu mereka menyokong SBY," ujar Irvan Edison.

Ada lagi lembaga benama President Center (PC) yang merupakan reinkarnasi dari Blora Center dan Blora Institut. Tugas mereka pada Pilpres 2004 yang memoles citra SBY dengan asupan isu-isu ekonomi, politik dan sosial kini dimabil alih oleh BMC.

Kini tugas lembaga yang didirikan Sudi Silalahi (mantan Pangdam V/Brawijaya, Seskab) itu melakukan perlawanan terhadap isu-isu menyudutkan pasangan SBY-Boediono. Di antaranya adalah berusaha 'menjual' isu bahwa Boediono bukan penganut mazhab ekonomi neo-liberalisme.

Masih teman-teman lama dan orang kepercayaan SBY yang menjadi penggerak PC. Mereka adalah Sudi Silalahi, Fadel Muhammad, Achmad Mubarok, Prof Djafar Hafsah, KH Abdurachman Al-Habsy, Arief Siregar (mantan Kababinkum TNI AD), Bagus Ali Junaidy, KH Syeh Ali Akbar Marbun, Tri Yulianto (Anggota Komisi III DPR-RI dan Hayono Isman.

Tentu saja SBY tidak melupakan kelompok-kelompok keagamaan. Untuk keperluan itu sejak 2004 silam didirikan Majelis Dzikir Sabilul Biri wal Yaqin (SBY) Nurussalam yang misi utamanya bukan sekadar menggelar pengajian pada setiap malam Jumat baik di kediaman Pribadi SBY maupun masjid Istana Kepresidenan.

"Kami merangkul majelis-majelis taklim di berbagai daerah, termasuk pesantren dan kalangan santri," tutur Kurdi Mustofa, mantan asisten SBY semasa menjabat Menko Polkam RI. (lh/irw)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads