Di atas kertas pihak DPP parpol bersangkutan resmi menandatangani kesepakatan memberikan dukungan kepada SBY-Boediono, tapi tidak demikian kenyataan di lapangan. Ada saja kader dan organisasi sayap dari parpol bersangkutan yang justru terang-terangan mendukung pasangan lain.
Keluhan ini disampaikan Zaenal A Budiyono dari Kaum Muda Indonesia (KMI), kepada detikcom, Kamis (28/5/2009). KMI adalah organ tim sukses SBY-Boediono yang tugasnya menggalang kekuatan dari kelompok-kelompok kepemudaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai contoh kasus adalah kunjungan politik pimpinan organisasi sayap
kepemudaan parpol koalisi SBY-Boediono ke markas JK-Wiranto di Posko Slipi 2, Jl Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka yaitu Angkatan Muda Kabah, Gerakan Pemuda Kabah (PPP), Garda Bangsa (PKB), Barisan Muda Damai Sejahtera (PDS) dan Pemuda Bulan Bintang (PBB).
Di dalam pertemuan tersebut mereka menyatakan siap mengerahkan jaringan masing-masing di daerah untuk mendukung dan bekerja memenangkan JK-Wiranto. Untuk itu organisasi kepemudaan tersebut akan bergabung dalam Koalisi Muda Indonesia (KMI) bentukan tim sukses JK-Wiranto.
Kasus yang paling mencolok adalah pernyataan yang dilontarkan Amien Rais dalam Rakornas PAN baru lalu. Pada kesempatan tersebut Amien terang-terang merestui Alvin Lie dan Drajad Wibowo bergabung dalam tim sukses JK-Wiranto. Padahal, Ketum DPP PAN Soetrisno Bachir sudah menandatangani kesepakatan berkoalisi dengan PD di Pilpres 2009.
Bahkan kader utama PAN, Hatta Rajasa menjabat sebagai ketua tim sukses SBY-Boediono yang didaftarkan resmi ke KPU.
"Ini kan persoalan mengelola parpol. Seharusnya bila yang di atas membuat
keputusan, maka yang di bawah mendukungnya. Jadi sebenarnya elit-elit parpol itu punya pengaruh atau tidak terhadap organ di bawahnya," gugat Zaenal. (lh/irw)











































