Pertemuan JK dan Pertuni digelar di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2009).
"Indonesia sangat hebat. Presidennya saja pernah seperti kalian. Betul...," kata JK dalam sambutannya.
"Betul...," sahut hadirin yang rata-rata memakai kemeja batik, membawa tongkat dan berkaca mata hitam ini.
"Berarti anggota Pertuni pernah jadi presiden," ujar JK.
JK selanjutnya melakukan tanya jawab dengan anggota Pertuni. Pertuni meminta pemerintah lebih memperhatikan nasib mereka, terutama pekerjaan sehingga tunanetra tidak menjadi tukang pijit saja. "Soal tukang pijit, kita terpinggirkan karena banyak tukang pijit dari luar negeri," keluh seorang anggota Pertuni.
"Bapak bilang, tunanetra bisa jadi presiden. Mungkin tidak Oktober tunanetra bisa menjadi menteri?" tanya seorang anggota Pertuni lainnya.
JK lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. "Jadi presiden saja bisa, apalagi jadi menteri," kata capres dari Partai Golkar ini.
JK juga akan meminta Depnakertrans untuk memberikan peluang kepada tunanetra untuk lebih berperan. "Jadi jangan semua menjadi tukang pijit. Tetapi tukang pijit lebih baik dari PNS. Jadi tukang pijit berapa memang sekali pijit," ujar JK.
"Rp 50 ribu," sahut anggota Pertuni.
"Wah kalau sehari 2 kali mijit, dapat Rp 100 ribu, sebulan Rp 3 juta," timpal JK.
Moderator yang juga tunanetra dalam kesempatan itu menunjukkan jam tangan braile yang dikenakannya. "Wah saya pernah ngasih Gus Dur seperti itu," cetus JK.
Pertuni juga meminta bantuan komputer dan printer yang bisa dibaca para tunanetra.
(aan/nrl)











































