'Perang Dingin' Tim Sukses Capres

'Perang Dingin' Tim Sukses Capres

- detikNews
Rabu, 27 Mei 2009 17:04 WIB
Perang Dingin Tim Sukses Capres
Jakarta - Aroma 'perang dingin' para capres-cawapres yang terlibat saling sindir menular ke tim suksesnya masing-masing. Gara-gara isu neoliberal vs ekonomi kerakyatan, ketiga tim sukses saling sindir kelemahan lawan.

'Perang dingin' ini tampak jelas saat dialog antara tim sukses capres-cawapres di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/5/2009). Tim JK-Wiranto diwakili Fuad Bawazier. Tim Mega-Prabowo diwakili Permadi, dan tim SBY-Boediono diwakili oleh Ruhut Sitompul.

Awalnya adalah lontaran Ruhut. Ketua DPP Partai Demokrat ini merasa Boediono terus-menerus digempur isu neolib oleh kubu pasangan lain. Gara-gara isu itu, kata dia, kini orang latah berbicara soal neolib meski tidak tahu apa substansi sebenarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jangan saudagar bicara ekonomi kerakyatan, ibu rumah tangga ikut ngomong juga, ehh tambah lagi dua jenderal ikut-ikutan ngomong. Pening aku!" cetus Ruhut dengan logat Batak kental.

Merasa disindir, Permadi yang ada duduk di samping Ruhut tak mau kalah. Ia balik membalas kalau Prabowo bukan baru kali ini bicara ekonomi kerakyatan.

"Jangan salah! Sebelum mendirikan partai Prabowo sudah bicara ekonomi kerakyatan di HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)," balas anggota Dewan Pembina Gerindra ini.

Bahkah, Permadi menuding anggota tim sukses SBY-Boediono yang memulai membuka-buka "aib" Pabowo terlebih dahulu.

"Belum apa-apa Prabowo dibilang tukang culik. SBY juga terlibat di 27 Juli," balas dia dengan lantang.

Fuad Bawazier pun tak mau kalah. Merasa JK-Wiranto dituding sebagai peniup isu neoliberal, Ketua DPP Hanura ini balik meminta SBY-Boediono untuk mengakui sebagai neolib.

"Sudahlah engak usah mengelak. Akui saja kalau memang neolib terus taubat nasuha, kan selesai," sahut Fuad.

Menanggapi serangan balik Fuad dan Permadi, Ruhut pun tak tinggal diam. Lagi-lagi ia melancarkan sindirannya. Kali ini Ruhut mencoba mengait-ngaitkan kedekatan Wiranto dan Prabowo dengan penguasa Orde Baru Soeharto.

"Ini kan mantan ajudan dan mantan menantu yang tahu jalan ke Cendana saja," balas Ruhut disambut tawa riuh para wartawan yang menyaksikan dialog.

(Rez/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads