'Perang dingin' ini tampak jelas saat dialog antara tim sukses capres-cawapres di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/5/2009). Tim JK-Wiranto diwakili Fuad Bawazier. Tim Mega-Prabowo diwakili Permadi, dan tim SBY-Boediono diwakili oleh Ruhut Sitompul.
Awalnya adalah lontaran Ruhut. Ketua DPP Partai Demokrat ini merasa Boediono terus-menerus digempur isu neolib oleh kubu pasangan lain. Gara-gara isu itu, kata dia, kini orang latah berbicara soal neolib meski tidak tahu apa substansi sebenarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merasa disindir, Permadi yang ada duduk di samping Ruhut tak mau kalah. Ia balik membalas kalau Prabowo bukan baru kali ini bicara ekonomi kerakyatan.
"Jangan salah! Sebelum mendirikan partai Prabowo sudah bicara ekonomi kerakyatan di HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)," balas anggota Dewan Pembina Gerindra ini.
Bahkah, Permadi menuding anggota tim sukses SBY-Boediono yang memulai membuka-buka "aib" Pabowo terlebih dahulu.
"Belum apa-apa Prabowo dibilang tukang culik. SBY juga terlibat di 27 Juli," balas dia dengan lantang.
Fuad Bawazier pun tak mau kalah. Merasa JK-Wiranto dituding sebagai peniup isu neoliberal, Ketua DPP Hanura ini balik meminta SBY-Boediono untuk mengakui sebagai neolib.
"Sudahlah engak usah mengelak. Akui saja kalau memang neolib terus taubat nasuha, kan selesai," sahut Fuad.
Menanggapi serangan balik Fuad dan Permadi, Ruhut pun tak tinggal diam. Lagi-lagi ia melancarkan sindirannya. Kali ini Ruhut mencoba mengait-ngaitkan kedekatan Wiranto dan Prabowo dengan penguasa Orde Baru Soeharto.
"Ini kan mantan ajudan dan mantan menantu yang tahu jalan ke Cendana saja," balas Ruhut disambut tawa riuh para wartawan yang menyaksikan dialog.
(Rez/nrl)











































