"Tugas utamanya penggalangan massa door to door dan masalah strategi-strategi. Kita ini jadi think thank," ujar Ketua Tim Garuda Marsekal Madya Purn Marsdya Purn Basri Sidehabi kepada detikcom, Senin (26/5/2009) malam.
Menurut Basri, tentunya sebagai tim sukses pihaknya harus mengetahui strategi kubu lawan. Termasuk mengetahui kelebihan dan kekurangan lawan.
Namun ia keberatan jika dikatakan ada perang intelijen antara para purnawirawan jenderal masing-masing capres-cawapres. Ia lebih suka menyebutnya adu strategi.
"Kurang tepat kalau disebut perang intelijen. Kalau intelijen itu kan untuk perang. Intelijen itu saling jegal, kalau ini lebih pada adu strategi untuk pencitraan," ungkapnya.
Menurutnya ada beberapa alasan capres-cawapres mempercayai purnawirawan jenderal dalam tim suksesnya. Salah satunya adalah faktor loyalitas.
"Kalau tentara itu kan lurus. Sejak dulu diajari tidak mbalelo. Tidak diajari jadi pengkhianat," ungkapnya.
Menanggapi kubu lawan yang juga bertaburan mantan bintang. Basri cukup optimis. "Ilmunya sama, tinggal bagaimana adu strategi," pungkasnya.
(rdf/fiq)











































