GPS merupakan salah satu tim relawan untuk memenangkan SBY-Boediono. Diketuai Marsekal Madya (Purn) Surrato Siswodihardjo, kawan dekat SBY, tim ini bertaburkan para jenderal. Selain Surrato juga terdapat nama mantan Kapolri Jenderal Polisi (purn) Sutanto yang menjadi pembina GPS. Lalu juga mantan Kasum TNI Letjen TNI (Purn) Suyono, Sedangkan dari kalangan sipil ada nama Menhut MS Kaban, Lili Wahid, Irsyad Sudiro, serta Ahmad Mubarok.
Surrato mengaku, pembentukan relawan GPS merupakan wujud simpati terhadap SBY. Meski demikian aktivitas GPS di luar struktur tim sukses. Dengan kata lain, rantai komando dipegang langsung pengurus GPS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan GPS terdiri dari dua pola, yakni ada yang terbuka dan tertutup. Sementara sasarannya adalah menggalang dukungan bagi SBY dari kalangan di luar Partai Demokrat (PD) maupun partai pendukung koalisi.
Selain masa golput, kata Surrato, GPS juga bergerak mendekati tokoh-tokoh dari lintas suku, lintas partai, serta lintas agama . "Beberapa hari lalu, kami menjalin hubungan dengan partai-partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk memenangkan SBY. Bahkan sejumlah mantan panglima GAM yang kami temui sudah menyatakan siap mendukung SBY," terang Surrato.
Dalam menyasar dukungan, GPS menghindari berbenturan dengan langkah yang dilakukan tim resmi SBY-Boediono. Lembaga yang berdiri 22 April 2009 tersebut, ujar Surrato, lebih banyak mencari "jalan tikus" dalam menggalang dukungan di daerah-daerah.
"Di GPS banyak pensiunan TNI yang paham masalah intelijen dan teritorial. Jadi kami memanfaatkan kemampuan tersebut untuk meraih dukungan bagi SBY," urainya.
Menjelang masa kampanye pilpres, sejumlah relawan pendukung SBY semakin banyak bermunculan. Selain GPS, belum lama ini mantan Ketua Blora Center Jusuf Rizal juga membantu lembaga Presiden Center (PC) sebagai basis pemenangan SBY-Boediono.
Lembaga ini, kata Jusuf Rizal kepada detikcom, merupakan reinkarnasi Blora Center, lembaga pencitraan SBY-JK di Pilpres 2004 silam. "Berdirinya President Center untuk melanjutkan perjuangan Blora Center yang pada Pilpres 2004 mengawal SBY jadi presiden," jelas Direktur PC Jusuf Rizal.
Namun diakuinya, posisi PC tidak sehebat dulu. Kalau di Pemilu 2004, Blora Center menjadi lembaga resmi untuk pencitraan SBY-JK, sekarang tidak lagi. Saat ini PC adalah lembaga independen alias relawan saja.
Pada pemilu 2004, SBY melalui Sudi Silalahi mendirikan sebuah lembaga pencitraan Blora Center yang diketuai Jusuf Rizal. Namun usai pemilu Blora Center retak, Jusuf kemudian mendirikan Lumbung Informasi Rakyat (Lira).
Adapun Sudi Silalahi, pasca vakumnya Blora Center, langsung membentuk Blora Institute yang dipimpin Taufik Rahzen. Rencananya Blora Institut akan dijadikan sebagai think thank pemenangan Pak SBY. Namun belakangan SBY rupanya lebih sreg menggandeng Fox Indonesia, yang kemudian membidani Bravo Media Center (BMC).
Meski demikian, Jusuf mengaku tidak merasa risau. Karena antara jejaring tim sukses punya tugas dan fungsi masing-masing. "Kalau dulu (pilpres) Blora Center didirikan untuk menjelaskan program-program yang akan dijalankan SBY-JK jika menang pilpres. Sekarang PC akan memberi penjelasan kepada masyarakat tentang keberhasilan SBY selama 5 tahun memimpin," ujarnya.
PC, kata Jusuf, juga akan melakukan counter opinion yang menyudutkan pasangan SBY-Boediono. Tim sukses tersebut juga akan menjadi tim task force dan melakukan marketing politik guna memenangkan pasangan tersebut.
Untuk memperkuat jaringan, PC mengklaim diperkuat Sudi Silalahi (Sekretaris Kabinet), Fadel Muhammad, Ketua Harian Partai Demokrat Achmad Mubarok, Prof Djafar Hafsah, KH Abdurachman Al-Habsy, mantan Kababinkum TNI AD, Mayjen TNI (Purn) Arief Siregar, Bagus Ali Junaidy, KH Syech Ali Akbar Marbun, Anggota Komisi III DPR-RI Tri Yulianto, serta Hayono Isman.
Munculnya nama GPS dan PC menambah panjang daftar tim pemenangan SBY yang ada sebelumnya, yakni Tim Echo, Tim Sekoci, Tim Delta, Tim Romeo, Barisan Indonesia atau Barindo, Jaringan Nusantara, dan Yayasan Dzikir SBY Nurussalam.
Namun di antara tim-tim pemenangan SBY, hanya tim sekoci yang bernama Indonesia Bersatu (Indoratu) yang bergerak secara rahasia. Tim sekoci ini mulai berdiri sebelum Pemilu 2004 dan mayoritas anggotanya adalah pensiunan tentara.
Beberapa pensiunan TNI seperti, T.B. Silalahi, Soeprapto, Amir Sembiring, Irvan Edison, dan Max Tamaela, ikut memperkuat tim tersebut. Gerakan mereka lebih banyak memakai pola-pola militer, seperti aktivitas intelijen, teritorial, dan sosial-politik
Sumber detikcom mengatakan, meski tim Indoratu lebih banyak melakukan operasi senyap, namun tim inilah yang justru jadi tulang punggung pemenangan SBY, baik di pilpres 2004 maupun peningkatan suara PD di pileg 2009.
Akankah tim Indoratu bisa mengulang kesuksesannya di Pilpres 2009 dengan mengantarkan SBY ke kursi RI-1 untuk kedua kalinya? Kita tunggu saja. (ddg/iy)











































