Neoliberal Vs Kerakyatan, Perang Ekonom di Balik Capres

Neoliberal Vs Kerakyatan, Perang Ekonom di Balik Capres

- detikNews
Jumat, 22 Mei 2009 12:31 WIB
Neoliberal Vs Kerakyatan, Perang Ekonom di Balik Capres
Jakarta - Sistem ekonomi neoliberal dan kerakyatan menjadi 'barang dagangan' di Pilpres 2009. Perang neoliberal dan ekonomi kerakyatan dinilai sebagai ulah para ekonom, bukan capres-cawapres.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, neoliberal vs ekonomi kerakyatan sebenarnya tidak dikembangkan capres-cawapres satu sama lain. Sebab, masing-masing capres cawapres tidak ada yang menuding lawannya masing-masing.

"Ini ulah orang-orang di belakang mereka. Yaitu, ekonom-ekonomnya. Ini the power of econom yang berperang sebenarnya," kata Faisal Basri di Restauran Kelapa Dua, Taman Ria Senayan, Jakarta, Jumat (22/5/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, neoliberal tidak terkenal selama ini. Selama ini yang terkenal mafia Berkeley. Mafia Berkeley merupakan julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan, yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia di masa awal pemerintahan Presiden Suharto.

Sebagian besar dari menteri-menteri soeharto itu adalah lulusan doktor atau master dari University of California at Berkeley di tahun 1960-an atas bantuan Ford Foundation.

"Tetapi, karena Pak Boediono bukan mafia Berkeley dia kan dari UGM. Yang terkenal mafia Berkeley kan Sri Mulyani. Jadi ada transisi dari mafia Berkeley ke neoliberal," ujar Faisal.

"Nah ini siapa, lagi-lagi ini yang bermain para ekonom. Jadi yang menarik ditelusuri adalah ekonom di balik mereka, siapa saja," lanjut dia.

Faisal mengusulkan agar debat di Pilpres tidak hanya untuk capres cawapres tetapi juga untuk para ekonom di balik mereka.

(aan/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads