JK: Kalau Pilih Orang Neoliberal, Habislah Masa Depan

JK: Kalau Pilih Orang Neoliberal, Habislah Masa Depan

- detikNews
Rabu, 20 Mei 2009 14:13 WIB
JK: Kalau Pilih Orang Neoliberal, Habislah Masa Depan
Jakarta - Calon presiden (Capres) dari Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) kembali menyindir cawapres SBY, Boediono yang dinilainya berpikiran neoliberal. Kalau memilih orang berpaham seperti itu, masa depan akan 'habis'.

"Kalau Anda memilih neoliberal silakanlah. Kita semua tergantung asinglah, kita semua tergantung IMF-lah," sindir JK.

Hal itu disampaikan JK di depan perwakilan sekitar 50 mahasiswaΒ  perguruan tinggi se-Indonesia dalam diskusi Hari Kebangkitan Nasional di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (20/5/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JK pun menceritakan bagaimana dirinya berhadapan dengan International Monetary Fund (IMF) saat menjabat Menteri Perdagangan (Mendag). IMF dinilainya, sangat memaksakan kehendak menerapkan kebijakannya di Indonesia.

"Waktu saya jadi Menteri Perdagangan, cuma saya menteri yang berani melawan IMF selama 3 tahun. Dan saya masuk ke kantornya untuk melawan. Apa ini IMF, dia mendikte luar biasa," jelas JK.

Ya kalau Anda memilih orang-orang berpikiran seperti itu habislah masa depan Anda semua. Jadi TKI-lah Anda semua," imbuh dia.

JK pun buru-buru menegaskan, menjadi TKI bukan tidak baik, namun nilai tambahnya ada di negara orang.

"TKI baik saya katakan. Dia baik, dia bagus, produktif. Tapi nilai tambahnya ada di Malaysia. Kita mau nilai tambahnya di sini," urai Wakil Presiden ini.

JK juga menjelaskan, bahwa pertarungan ide inilah yang sebenarnya terjadi dalam Pemilu. Ada yang cenderung neoliberal, ada yang cenderung kerakyatan.

Anak muda yang menunjukkan gejala apolitis diimbau JK untuk terlibat dalam pertarungan ide ini. Karena turut menentukan masa depan mereka juga.

"Bukan saya ingin terhormat, SBY terhormat, Mega terhormat. Ini pertarungan masa depan Anda. Salah Anda apatis dengan tidak memilih pemimpin yang tepat, masa depan Anda kabur," kata Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) ini.

(nwk/nik)


Berita Terkait