"Faktor leadership, tidak ada keberanian untuk mengambil resiko, dan keteladanan pemimpin," kata Hasyim menguraikan kelemahan pemerintahan SBY saat dijumpai wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2009).
Menurut Hasyim, pemimpin yang sedang berjalan tidak mengutamakan kepentingan rakyat dan hanya mengejar nama baik dan popularitas. Hasyim berharap pemerintah ke depan lebih memperhatikan kepercayaan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasyim merasa prihatin dengan sistem pemerintahan sekarang. Dia berharap pemerintah dapat lebih tegas dan berani menentukan kebijakan yang menyejahterakan rakyat Indonesia.
"Bagaimana merapikan sistem, karena kita melihat ada 'kelebihan' dalam sistem kita sekarang ini. Harus dirapikan dan disederhanakan, dikembalikan ke tengah," tutur Hasyim.
Hayim juga mengomentari pelaksanaan pileg yang menuai banyak permasalahan. Hasyim berharap pemerintah dapat bersikap netral dalam pilpres Juli nanti.
"Kita hanya ingin proses pemilihan itu fair pada seluruh proses pemilihan, jangan menggunakan kekuasan negara untuk memenangkan," tutur Hasyim.
Neoliberalisme Buruk
Dalam kesempatan itu Hasyim juga menyentil persoalan yang sedang hangat, yakni isu neoliberalisme yang disematkan kepada cawapres SBY, Boediono. Menurutnya neoliberalisme tidak sesuai diterapkan di Indonesia.
"Ekonomi neoliberal sulit mengakomodasi. Sentralnya pada capital (modal), bukan proyeksi pada rakyat kecil. Itulah mengapa kita kalah dari Vietnam dan Malaysia karena ketergantungan ini," jelasnya.
(van/sho)











































