Hal itu terlihat dari manuver kader PAN, PPP, PKS dan PBB yang terang-terangan menyatakan dukungannya kepada capres lain meski pengurus DPP-nya mendukung SBY.
Keputusan DPP PAN yang mendukung SBY-Boediono tidak serta merta diikuti oleh pengurus DPP PAN lainnya. Drajad Wibowo yang juga menjadi ketua DPP PAN justru memilih menghadiri pendaftaran pasangan JK-Wiranto di KPU. Alasannya karena SBY memilih orang yang tidak tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian juga dengan PPP. Meski pada awalnya partai ini mencoba merapat ke Gerindra dan Prabowo Subianto, di akhir permainan PPP mantap memilih SBY-Boediono. Namun beberapa kedernya seperti Habil Marati memilih mendukung JK dengan datang dalam pendaftaran JK-Wiranto di KPU.
"Kalau Pak Habil, saya kira wajar mendukung JK-Wiranto karena unsur daerahnya. Dia kan orang dari Makassar. Tapi saya belum dapat laporan soal itu," kata pengurus DPP PPP yang tidak mau disebut namanya kepada detikcom, Senin (17/5/2009).
Hal yang sama juga terjadi di PKS. Meskipun partai dakwah ini resmi mendukung SBY-Boediono, Sekjen PKS Anis Matta justru memuji-muji pasangan JK-Wiranto.
PBB pimpinan MS Kaban pun setali tiga uang. DPP PBB resmi mendukung SBY-Boediono. Tapi ketua DPP PBB Ali Mochtar Ngabalin terang-terangan mendukung pasangan JK-Wiranto. Bahkan Ali menjadi salah satu tim suksesnya JK-Wiranto. Kabarnya, tidak hanya Ali Mochtar, beberapa petinggi PBB yang selama ini berseberangan politik dikabarkan juga akan mendukung JK-Wiranto.
Apakah langkah parpol ini sengaja sebagai bagian dari strategi mengamankan partai dengan menyebar kadernya di capres, atau memang benar-benar pecah?
(yid/iy)











































