SBY-Berbudi Tokcer di Fulus, Lemot di Mesin Koalisi

Ke Istana, Siapa Melenggang?

SBY-Berbudi Tokcer di Fulus, Lemot di Mesin Koalisi

- detikNews
Senin, 18 Mei 2009 11:08 WIB
SBY-Berbudi Tokcer di Fulus, Lemot di Mesin Koalisi
Jakarta - Duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)- Boediono diawali banyak kecaman. Bahkan pasangan ini  sempat tidak mendapat restu dari beberapa partai pendukung SBY. Bahkan PPP, PAN, dan PKS,sempat berencana menarik dukungan bila SBY keukeuh memilih Gubernur Bank Indonesia tersebut sebagai cawapresnya.

Tiga partai tersebut menolak Boediono dengan alasan, pria kelahiran Blitar, Jawa Timur,
Februari 1943, itu dianggap tak merepresentasikan umat Islam. Malah Boediono dianggap sebagai penganut kejawen alias abangan.

"Boediono tidak merepresentasikan umat Islam. Makanya kami menolak dia dipilih jadi cawapres," tegas Wasekjen DPP PPP Taufiqulhadi beberapa waktu lalu.

Selain tidak mewakili umat Islam, Boediono juga dicap sebagai penganut paham ekonomi neoliberalisme, yang diusung Amerika Serikat (AS). Guru besar  Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) itu kemudian dituding sebagai antek AS.

Namun penolakan tersebut tidak berlangsung lama. Protes dari partai-partai Islam yang berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD), pelan-pelan kemudian mereda. Belakangan PPP dan PAN akhirnya sepakat mendukung Boediono sebagai cawapres SBY.

Sementara PKS, yang sebelumnya sangat keras menentang Boediono, kemudian dapat ditaklukan di menit-menit akhir sebelum deklarasi SBY-Boediono di Sabuga, Bandung, 15 Mei 2009.

Untuk menaklukan PKS, Ketua Dewan Pembina PD SBY yang harus terjun langsung memberi penjelasan kepada para petinggi partai dakwah tersebut, di antaranya Ketua Majelis Syura PKS  Hilmi Aminuddin dan Presiden PKS Tifatul Sembiring saat di Hotel Sheraton, Bandung.

Kembali solidnya dukungan partai-partai pendukung SBY membuat pasangan capres-cawapres berjargon SBY Berbudi tersebut berpotensi lolos sebagai pemenang. Setidaknya, di atas kertas SBY bakal mendapat dukungan suara lebih dari 50%.

Angka tersebut merupakan asumsi perolehan suara yang didapat partai-partai pendukung di Pileg 2009. Dalam perhitungan akhir KPU PD meraih 20,85%, PKS 7,88%, PAN 6,01%, PPP 5,32%, PKB 4,94%, PBB 1,79%, PDS 1,48%, PBR 1,21%. Belum lagi ditambah suara partai di bawah 1 persen yang juga ikut barisan koalisi yang dibangun PD tersebut.

Selain mengantongi banyak dukungan sejumlah parpol, popularitas SBY juga dianggap masih berada di posisi puncak. Pengalaman SBY yang menang di pilpres 2004 membuatya semakin percaya diri.

Di pilpres 2004, SBY mampu mengungguli pasangan capres-cawapres yang didukung partai-partai kelas kakap, seperti Partai Golkar (PG) dan PDIP. SBY yang waktu itu berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) mampu lolos ke putaran kedua, setelah di putaran pertama berhasil meraih 33,52% suara.

Sementara lawan-lawanya, yakni pasangan Megawati-Hasyim Muzadi yang didukung PDIP hanya mampu meraih 26,69 %. Dan pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid yang didukung partai pemenang pemilu 2004, PG, tidak berdaya di urutan ke-3 dengan raihan 22.14 % suara.

Adapun Amien Rais-Siswono Yudo Husodo yang didukung PAN hanya memperoleh 14,43%. Sedangkan pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar dari PPP terseok di urutan nomor buncit dengan perolehan suara hanya 3,22 %.

Melangkah ke putaran kedua, pasangan SBY-JK yang saat itu berhadapan dengan Megawati-Hasyim, semakin menunjukan kejayaannya. Duet bekas anak buah Megawati di Kabinet Gotong-Royong tersebut akhirnya menjadi pemenang setelah memperoleh 66,62 % suara. Sedangkan bekas bosnya, Megawati, hanya memperoleh 39,38 % suara.

Dengan pengalaman yang dimiliki di pilpres 2004, serta keberhasilan PD menjadi pemenang Pemilu 2009 membuat peluang SBY menuju istana semakin terbuka lebar. Sekalipun SBY memilih tokoh yang kurang dikenal publik sebagai cawapresnya, seperti Boediono.

"Lima tahun memegang jabatan presiden bisa  jadi modal pasangan SBY-Boediono untuk menggaet suara di pilpres mendatang," jelas anggota Tim 9 Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, kepada detikcom, Minggu, 17 Mei 2009.

Apalagi SBY, lanjut Ruhut, 5 tahun belakangan dianggap sukses menjalankan pemerintahan. Dan Boediono juga dianggap punya pengalaman yang mumpuni sebagi pembantu presiden, khususnya di bidang ekonomi.

Namun menurut sejumlah pengamat, bukan berarti pasangan SBY-Boediono akan mulus-mulus saja melenggang menjadi RI-1 dan RI-2. Pengalaman dan dukungan partai-partai saja belumlah cukup. Sebab faktor penentu kemenangan di pilpres adalah mesin partai, strategi, dan dana.

"Ada 3 faktor yang akan menjadi penentu kemenangan pasangan capres-cawapres di pilpres nanti, yakni strategi, mesin partai serta dana. Dan yang paling adalah faktor dana," jelas pengamat politik Muhammad Qodari saat bincang-bincang dengan dengan detikcom.

Direktur lembaga survei Indo Barometer tersebut melanjutkan, urusan dana jadi faktor penentu karena masing-masing pasangan harus mengeluarkan banyak uang untuk beriklan di televisi maupun media massa lainnya.

Serangan udara (iklan), kata Qodari, jadi sangat vital karena waktu kampanye pilpres yang sangat mepet. "Masing-masing pasangan akan kehabisan waktu jika harus turun ke konstituen di seluruh wilayah RI. Tapi kalau beriklan lewat media, efeknya bisa menjangkau hingga ke pelosok-pelosok tanah air," ungkapnya.

Untuk urusan strategi tim SBY ke depan, Qodari enggan mengatakannya. Sedangkan soal fulus, PD dinilai tidak akan kesulitan untuk menggalangnya. Karena SBY-Boediono didukung sejumlah pengusaha papan atas.

Namun problem yang dihadapi SBY adalah mesin koalisinya. Sebab di internal partai pendukung SBY banyak yang tidak solid. Sebut saja PAN, PPP, serta PKS. Pasalnya, meski beberapa elit partai tersebut menyatakan dukungan kepada SBY-Boediono, tapi ada juga elit di PPP, PAN dan PKS yang tidak sepakat.

Persoalan lainnya, di gerbong koalisi yang dibangun PD terdapat partai-partai Islam yang masing-masing punya perbedaan kultur. PKB yang berbasis massa Nahdlatul Ulama (NU) kurang klop dengan PAN yang berbasis Muhammadiyah maupun PKS. Hal ini diprediksi akan berisiko terjadinya perpecahan di tubuh koalisi. Perbedaan kultur tersebut bisa membuat mesin koalisi yang mendukung SBY mandek sewaktu-waktu.

Sumber detikcom mengatakan, saat penjaringan cawapres yang diusulkan beberapa partai yang berkoalisi dengan PD, Tim 9 yang dibentuk SBY sempat dibuat kerepotan. Soalnya, ketika ada salah satu kandidat dari partai tertentu namanya semakin menguat sebagai cawapres, beberapa partai langsung memprotes.

Anggota Tim 9 tersebut sempat disuruh "menggunting" alias mencoret nama bakal cawapres tersebut sebelum sampai ke kantong SBY. Begitupun sebaliknya. "Saya sempat ditelepon atau di sms untuk menggunting beberapa nama cawapres diusulkan mitra koalisi kami," jelas sumber detikcom.

Akhirnya, dengan dalih menjaga kekompakan koalisi, SBY kemudian mengambil sikap dengan memilih Boediono sebagai cawapresnya.

Tapi pilihan tersebut, kata peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Iman Suhirman, bukan berarti tanpa masalah. Sebab dengan memilih Boediono, perolehan suara SBY justru bisa berkurang.

Suhirman menjelaskan, dari hasil survei, baik yang sudah dirilis LSI maupun yang baru sebatas simulasi, nama Boediono masih kalah jauh dari cawapres Megawati, Prabowo Subianto maupun Cawapres JK, yakni Wiranto.

"Popularitas Prabowo sebagai cawapres akan menunjang perolehan suara dukungan terhadap Megawati. Begitu juga Wiranto yang bisa membantu JK. Sedangkan sosok Boediono justru bisa mengurangi suara dukungan terhadap SBY," beber Suhirman.

Indikasi terancamnya suara SBY akibat Boediono, imbuh Suhirman, bisa dilihat dari penentangan sejumlah kalangan, ketika PD menyebut Boediono bakal menjadi cawapres SBY sejak sepekan lalu.

Problem-problem tersebut diperkirakan bakal menjadi masalah serius bagi SBY untuk jadi presiden yang kedua kalinya.

(ddg/iy)


Berita Terkait