Andi Arief: Boediono Pilihan Tepat untuk Hadapi Krisis Global

Andi Arief: Boediono Pilihan Tepat untuk Hadapi Krisis Global

- detikNews
Sabtu, 16 Mei 2009 15:38 WIB
Andi Arief: Boediono Pilihan Tepat untuk Hadapi Krisis Global
Jakarta - Keputusan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memilih Gubernur BI Boediono sebagai cawapresnya dinilai tepat. Sosok Boediono dinilai mampu mendamping SBY menghadapi krisis global ke depan.

Hal tersebut diungkapkan Sekjen Jaringan Nusantara Andi Arief dalam perbincangan dengan detikcom melalui telepon, Sabtu (16/5/2009).

"Budiono orang yang sederhana, pekerja keras, matang, cakap, profesional, punya latar belakang akedemis yang baik, berpengalaman dalam dua pemerintahan dan, terpenting, bisa menenangkan pasar," kata Andi.

Menurut Andi, ketenangan pasar itu penting untuk membuat perekonomian bergerak maju, terutama membangkitkan dan memajukan sektor riil yang akan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, akan mencairkan kembali sektor finansial yang sinergis dengan sektor riil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu capaian nyata Budiono dalam menjaga stabilitas perekonomian di tengah terjangan badai krisis global. Dunia internasional juga mengakui ketahanan perekonomian negeri Indonesia dalam menghadapi pukulan krisis global, ketimbang negeri-negeri lainnya," ungkap Andi.

Andi juga menilai, Budiono memiliki watak profesional. Misalnya soal ketahanan atas terjangan badai krisis global, kebijakan moneternya bisa menghidupkan kembali sektor riil maupun sektor finansial sehingga tidak membahayakan ketenagakerjaan, atau dampaknya terhadap PHK tidaklah ekstrim.

"Lalu ada kebijakan fiskal dan perdagangan yang bisa meningkatkan pendapatan negara dan devisa. Dia juga bisa menstabilkan nilai tukar rupiah," tutur Andi.

Mengenai tudingan neoliberal terhadap Budiono, kata Andi, hal itu tidak benar. Sebab, di negeri maju sekalipun kebijakan neoliberal tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Apalagi di negeri berkembang seperti Indonesia. Menurut Andi, banyak orang berbicara neiliberalisme lebih sebagai isu ketimbang subtantif.

"Dari berbagai kebijakannya kita bisa menilai bahwa Budiono dan tim ekonomi serta para ekonom yang belum berpolitik pasti sadar, bahwa kebijakan neoliberalisme tidak bisa diterapkan sepenuhnya di sini. Apalagi dalam perkembangan pasca krisis global, Semua negara mencari penyelamatan masing-masing," tukas Andi. (djo/djo)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads