"Saya kira kehadiran ketua umum itu simbol, bukan masalah teknis," kata pengamat politik LIPI Lili Romli saat dihubungi detikcom, Sabtu (16/5/2009).
Pada malam deklarasi 'SBY Berbudi', SB malah menggelar rapat bersama sekitar seratusan kader PAN di Hotel Mega Pro, Jl Proklamasi, Jakpus. Sedangkan dalam deklarasi di Bandung, PAN hanya diwakili Sekjen PAN Zulkifli Hasan dan Ketua DPP Patrialis Akbar.
Menurut Lili, ketidakjelasan sikap PAN semakin terbaca dari sikap Ketua MPP Amien Rais terakhir yang secara tegas menolak Boediono sebagai cawapres SBY. Padahal saat Rakernas di Yogya, kata Lili, Amien rela 'meninggalkan' SB demi mendorong Hatta Rajasa menjadi cawapres SBY.
"Amien kan mendorong-dorong Hatta untuk cawapres SBY. Amien pasti kecewa," jelasnya.
Lili menjelaskan, ketidakjelasan dukungan PAN terhadap koalisi barisan SBY Berbudi ini bisa berdampak negatif. Yakni, tidak bergeraknya mesin partai untuk memenangkan pasangan calon ini di Pilpres mendatang.
Satu hal lagi yang paling mengkhawatirkan, menurut Lili, adalah tidak ditandatanganinya kontrak politik koalisi oleh SB sebagai ketum untuk dilampirkan dalam berkas pendaftaran capres-cawapres.
"Apakah SB mau tanda tangan atau tidak, itu intinya," tegasnya.
Dalam pasal 13 ayat (3) UU 42 Tahun 2008 tentang Pilpres disebutkan pendaftaran bakal pasangan calon oleh gabungan partai politik ditandatangani oleh ketua umum atau sebutan lain dan sekretaris jenderal atau sebutan lain dari setiap partai politik yang bergabung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (lrn/lrn)











































