"Kita ingin masyarakat menyadari bahwa pemilu merupakan sarana demokrasi untuk memilih para pemimpin bangsa, meski hal itu bukan merupakan tujuan utama," kata pengamat intelijen Wawan H Purwanto.
Hal itu dia katakan di sela-sela diskusi bertema 'Dampak Sosial terhadap Potensi Disintegrasi Bangsa' di Hotel Sofyan Betawi, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (14/5/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua pihak tidak ingin negeri ini tercabik-cabik karena adanya benturan antar-grassroot. Kita semua harus berpikir jernih bahwa kemajuan negara kita adalah kita sendiri yang mengatur," jelasnya.
Wawan juga mengatakan, potensi disintegrasi dalam pelaksanaan pemilu
presiden mendatang cukup tinggi. Hal ini karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural yang mayoritasnya adalah berpendidikan dasar (80 persen) sehingga mudah tersulut.
"Karena itu, kita harus mewaspadainya agar tidak dijadikan sebagai senjata oleh pihak-pihak tertentu dalam menyikapi kekalahan dengan melakukan gerakan-gerakan yang kontraproduktif dalam pertarungan pemilu presiden itu," ungkapnya.
Wawan juga meminta semua pihak agar bersikap dewasa dalam menyikapi perkembangan politik menjelang ilpres dan menyadari bahwa siap menang dan siap kalah itu bukan hanya konsep belaka.
(zal/sho)











































