"Kalau memang mau keluar ya keluar saja. Lalu mau bikin poros tengah silahkan. Kalau itu benar-benar serius, hal itu sehat untuk parpol-parpol Islam," ujar Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti kepada detikcom saat dihubungi melalui telepon, Rabu (13/5/2009) malam.
Ikrar menambahkan, sebenarnya langkah ini pernah dibangun saat ini beberapa bulan yang lalu. Namun parpol Islam nampak masih setengah-setengah merajut komunikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman tersebut, imbuh Ikrar, sekaligus merupakan taruhan bagi tiap-tiap parpol. "Jika ancaman itu hanya omong saja, maka asumsi selama ini yang menyatakan mereka hanya gertak sambal berarti benar. Tapi apabila benar mereka membangun poros tengah buat saya itu baru politisi gentelman,"
Menurut Ikrar, asumsi bahwa SBY bertindak otoriter dalam penentuan cawapres adalah benar. SBY dinilai ketakutan atas langkah politik yang dibangunnya sendiri.
"Dia (SBY) itu berada dalam bayang-bayangnya sendiri. Karena ia tahu Tifatul, Hatta Rajasa dan lainnya akan menjadi anak macan nantinya. Ini sama seperti dulu saat ia di zaman Megawati," tandas peneliti LIPI ini.
Dengan memilih Boediono, SBY dinilai tidak membangun masa depan bagi demokrasi Indonesia. "Pak Boediono itu kan sudah sepuh, bagi demokrasi kita kenapa sih tidak milih anak muda saja," tutupnya.
(ape/rdf)










































