Kepastian itu disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok di DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2009).
"Saya kira ada 99%. Yang 1% itu kehendak Tuhan. Memang tadinya nama cawapres akan diberitahukan 2 hari sebelum deklarasi. Tetapi, kemarin sudah beredar yaitu berarti ada pertimbangan-pertimbangan lain," kata Mubarok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alasan mengapa Boediono yang dipilih, menurut saya itu subyektif, hanya Pak SBY yang tahu. Sebenarnya yang lain dari kalangan profesional juga ada Pak Jimly dan Sri Mulyani. Tetapi, kenapa Pak Boediono yang dipilih, kita hanya bisa mengira-ngira," papar dia.
Dikatakan dia, presiden dan wakil presiden harus ada satu kesatuan yang jelas. Posisi presiden adalah sebagai lokomotif. Sedangkan partai-partai adalah gerbong di belakangnya.
"Jadi, Pak Boediono sebagai wapres tugasnya adalah memperkuat posisi Pak SBY sebagai presiden dan juga lokomotif. Sedangkan untuk masalah di parlemen, tidak menjadi tugas wapres tetapi lebih ke partai dan menteri-menteri yang ada di dalamnya," kata Mubarok.
Ketika ditanya Boediono tidak dekat dengan Muhammadiyah dan NU, Mubarok tidak mempersoalkannya.
"Kalau menurut saya justru yang seperti itu yang kita cari karena nantinya ia wapres tidak ada pikiran ke mana-mana. Dibutuhkan wakil yang tidak condong ke kanan atau ke kiri. Tetapi, yang loyal kepada presiden," tutur dia.
Mubarok juga menilai karakter Boediono yang dinilai neoliberal pun bukan ancaman.
"Kalau Boediono menjadi ancaman untuk neoliberal karena karekter Boediono menurut saya tidak menjadi ancaman sama sekali," cetus dia.
(aan/iy)











































