Berikut perjalanan Amien menuju SBY sesuai catatan detikcom:
12 April 2009
Tiga hari setelah Pemilu legislatif, Amien Rais bertemu SBY di Wisma Negara. Amien dan SBY yang ditemani Hatta Rajasa membicarakan masalah bangsa dan politik. Amien dan SBY juga membahas mengenai dukungan untuk Pilpres 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
19 April 2009
Amien Rais sebagai Ketua MPP PAN mengumpulkan pimpinan DPW-DPW PAN se-Indonesia di rumahnya di kawasan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Hadir juga para fungsionaris PAN, termasuk Wakil Ketua MPP PAN Hatta Rajasa. Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir (SB) berhalangan hadir. Hasil dari pertemuan itu, 28 DPW PAN mendukung koalisi dengan Partai Demokrat dan mengusung SBY sebagai capres. DPW-DPW juga mengusung Hatta dan SB sebagai cawapres untuk dipasangkan dengan SBY. Dua keputusan itu akan dibahas dalam Rakernas PAN yang akan digelar selanjutnya.
27 April 2009
Amien Rais menghadiri rapat konsultasi DPP dan MPP PAN di rumah PAN, Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan. Amien dan SB sempat bertemu empat mata sebelum bertemu pimpinan harian DPP PAN. Dalam pertemuan itu, Amien dan SB membantah berseberangan. Mereka menunjukkan kemesraan. Tapi, suara-suara dari DPP PAN memang terpecah: sebagian mendukung koalisi dengan PD, sebagian ingin bergabung dengan Prabowo Subianto dan Gerindra. Namun, Amien menegaskan bahwa Demokrat merupakan pilihan rasional dan SBY berpeluang besar untuk menang Pilpres.
1 Mei 2009
Amien Rais dan SB bertemu di rumah Amien Rais di Taman Gandaria, Jakarta Selatan. Pertemuan membahas mengenai pelaksanaan Rakernas PAN. SB tidak setuju dengan penyelenggaraan Rakernas PAN di Yogyakarta, meski keputusan penyelenggaraan Rakernas di Yogya sudah disetujui dalam rapat harian. SB tetap ingin agar Rakernas digelar di Jakarta.
Pertemuan deadlock. Sampai akhirnya tercapai kesepakatan pada malam harinya. SB akhirnya luluh dan siap hadir di Rakernas PAN di Yogya dengan syarat: Rakernas Yogya tidak akan mengambil keputusan penting terkait koalisi dan cawapres. SB dan kubunya ingin Rakernas hanya membahas masalah-masalah prinsip koalisi. Keputusan mengenai koalisi dan cawapres akan dilakukan pada Rakernas tahap II di Jakarta. Kabarnya Amien Rais dan kubunya sudah deal dengan hal ini.
2 Mei 2009
Rakernas PAN di Hotel Sheraton Yogyakarta dibuka oleh SB, dihadiri Amien, Hatta Rajasa, para fungsionaris DPP PAN dan pimpinan DPW-DPW PAN. Namun, di tengah acara, SB meninggalkan arena Rakernas. Di Rakernas itu, forum meminta agar Rakernas membuat keputusan mengenai koalisi dan cawapres. Karena disetujui peserta Rakernas, forum itu akhirnya membuat keputusan PAN berkoalisi dengan Demokrat dan mengusung Hatta Rajasa sebagai cawapres pendamping SBY. Tidak ada lagi Rakernas susulan.
5 Mei 2009
Sinyal Hatta Rajasa menjadi cawapres SBY terus menguat. Bahkan, Hatta kemudian mendatangi rumah Ketua Umum DPP PDIP Megawati. Hatta diutus SBY untuk membuka komunikasi politik dengan PDIP sebagai upaya koalisi yang lebih besar. Selama ini komunikasi SBY dan Megawati buntu.
9 Mei 2009
Menjelang 1 hari pengumuman cawapres, sinyal Hatta menjadi cawapres SBY masih santer. Namun, pengumuman yang seharusnya dilakukan 10 Mei akhirnya ditunda hingga 15 Mei 2009. Kabar PDIP mendekati Demokrat makin santer. Nama Hatta sebagai cawapres SBY makin meghilang.
11 Mei 2009
Hatta Rajasa kembali mendatangi rumah Megawati sebagai utusan khusus. Hatta yang sudah tahu bahwa dirinya tidak dipilih SBY tetap terlihat tersenyum, seakan tidak kecewa. Dia mengaku diutus SBY untuk menjalin komunikasi dengan Mega dan jajaran PDIP. Keputusan SBY memilih Boediono bocor. Sejumlah parpol koalisi pendukung SBY, termasuk PAN menggelar rapat untuk memberi respons atas keputusan SBY yang memilih Boediono itu.
12 Mei 2009
PAN bersama PPP dan PKS menggelar pertemuan. Hasilnya, mereka mempertanyakan alasan mengapa SBY memilih Boediono. Jika parpol-parpol tidak diakomodir, maka mereka mengancam akan membuat poros alternatif.
Amien Rais yang sejak Rakernas PAN di Yogya jarang muncul di media berbicara keras tentang duet SBY-Boediono. Saat dihubungi detikcom, Amien kecewa dan menilai SBY telah mengambil risiko fatal. Amien menilai duet SBY-Boediono tidak laku.
(asy/nrl)











































