Jubir JK-Wiranto: SBY Bersifat Menunggu, Berpikir dan Responsif

Jubir JK-Wiranto: SBY Bersifat Menunggu, Berpikir dan Responsif

- detikNews
Senin, 11 Mei 2009 13:30 WIB
Jubir JK-Wiranto: SBY Bersifat Menunggu, Berpikir dan Responsif
Jakarta - SBY yang reaktif terhadap sindiran JK inilai sebagai tanda-tanda nyata yang menunjukkan bahwa capres tunggal PD itu memang memiliki sifat menunggu baru merespons. Hal ini berbeda dengan JK yang memiliki sikap berani dan sebagai inisiator.

"Gaya SBY yang responsif itu menunjukkan bahwa beliau (SBY) itu memang mempunyai sifat 'menunggu, berpikir dan merespons'. Sedangkan JK lebih kepada berpikir dan berani menjadi inisiator," kata Juru Bicara Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto, Poempida Hidayatulloh, kepada detikcom, Senin (11/5/2009).

Menurut Wakil Bendahara DPP Partai Golkar ini, seluruh pengurus DPP Golkar sangat memahami gaya komunikasi SBY yang demikian itu. Karenanya, Golkar tidak akan ambil pusing dan yakin calonnya akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kami sangat paham dengan gaya SBY yang demikian itu. Yang jelas JK-Wiranto sudah menunjukan sebagai leader dalam pilpres dan menjadi kontender yang serius," papar menantu Fahmi Idris ini.

Untuk diketahui, tahun 2009 benar-benar menjadi tahun yang penuh kerikil bagi hubungan SBY-JK. Riak-riak kecil senantiasa menghiasi hubungan kedua pemimpin bangsa ini. Ketegangan demi ketegangan pun terus terulang.

Saat JK mencapreskan diri pada Februari 2009 lalu, berhembus kabar bahwa hubungan mereka renggang. Rapat kabinet terbatas pada 27 Februari yang dihadiri SBY-JK pun cuma berlangsung 45 menit saja. Padahal, itu adalah pertemuan kali pertama semenjak JK mencapreskan diri.

Pertemuan SBY-JK selanjutnya terjadi saat JK bertandang ke kediaman SBY di Puri Cikeas, Bogor, pada Senin 13 April lalu. Belum jelas apa yang mereka bicarakan. Namun, lagi-lagi pertemuan itu cuma berlangsung sekitar 40-an menit saja. Beredar kabar, saat itu JK ditolak untuk duet lagi dengan SBY.

Hubungan SBY-JK mulai akrab kembali saat mereka berdua hadir di acara pertemuan SBY-JK bersama 33 gubernur se-Indonesia di Kantor Setneg pada 24 April lalu. Karena resmi 'bercerai', saat memasuki ruangan keduanya mendapatkan aplaus meriah dari para gubernur dan menteri yang hadir.

Namun suasana tegang kembali terjadi saat dalam sebuah acara di Makassar pada Sabtu 2 Mei, JK mengatakan bahwa Partai Golkar menjadi bumper pemerintah. Menurut JK, jika kebijakan pemerintah tak populis, maka Golkar yang menanggungnya. Tapi sebaliknya, jika pemerintah berprestasi, presidenlah yang memetik buahnya.

Dan 'ulah' JK diulang Sabtu 9 Mei. JK menyindir SBY dan capres lain mengulur-ulur waktu deklarasi capres/cawapres. JK menyindir, menunggu itu membosankan. Sangat berbeda dengan dirinya yang mengklaim lebih cepat lebih baik.

Pernyataan JK langsung ditanggapi SBY. SBY balik menuding bahwa JK takabur karena merasa lebih baik. "Tidak perlu kita tunjukkan kalau kita lebih cepat, lebih baik atau lebih ini. Itu takabur namanya. Tidak baik, jadi hati-hati," ujar SBY, Minggu (10/5/2009) malam.
(yid/nrl)


Berita Terkait