"Saya melihat SBY telalu reaktif. Kalau kita kampanye misalnya, katakan kita menjelaskan kita ini siapa, memuji diri sendiri, kan boleh-boleh saja. Yang tidak boleh itu adalah menjelek-jelekkan orang lain," kata Ketua Bappilu Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu kepada detikcom, Senin (11/5/2009).
Menurut pria yang akrab disapa Burnap ini, hingga sejauh ini, pidato-pidato JK masih dalam batas kewajaran. Tidak seperti model kampanye di Amerika Serikat (AS) yang sampai mengungkap kehidupan pribadi capres lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masih dalam batas kewajaran, lanjut Burnap, manuver politik JK juga merupakan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Permasalahannya adalah orang takut apabila kalah dalam pertarungan pilpres.
Burnap berharap SBY juga bersedia untuk mengintrospeksi diri mengapa dulu meninggalkan Golkar. Akibatnya perpolitikan pasca pemilu legislatif menjadi ruwet seperti sekarang ini.
"Apa dasarnya dia (SBY) meninggalkan Golkar, sehingga perpolitikan ruwet seperti ini. Sekarang merayu PDIP lagi," pungkasnya.
(irw/nrl)










































