Saat JK mencapreskan diri pada Februari 2009 lalu, berhembus kabar bahwa hubungan mereka renggang. Rapat kabinet terbatas pada 27 Februari yang dihadiri SBY-JK pun cuma berlangsung 45 menit saja. Padahal, itu adalah pertemuan kali pertama semenjak JK mencapreskan diri.
Pertemuan SBY-JK selanjutnya terjadi saat JK bertandang ke kediaman SBY di Puri Cikeas, Bogor, pada Senin 13 April lalu. Belum jelas apa yang mereka bicarakan. Namun, lagi-lagi pertemuan itu cuma berlangsung sekitar 40-an menit saja. Beredar kabar, saat itu JK ditolak untuk duet lagi dengan SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun suasana tegang kembali terjadi saat dalam sebuah acara di Makassar pada Sabtu 2 Mei, JK mengatakan bahwa Partai Golkar menjadi bumper pemerintah. Menurut JK, jika kebijakan pemerintah tak populis, maka Golkar yang menanggungnya. Tapi sebaliknya, jika pemerintah berprestasi, presidenlah yang memetik buahnya.
Dan 'ulah' JK diulang Sabtu 9 Mei. JK menyindir SBY dan capres lain mengulur-ulur waktu deklarasi capres/cawapres. JK menyindir, menunggu itu membosankan. Sangat berbeda dengan dirinya yang mengklaim lebih cepat lebih baik.
Pernyataan JK langsung ditanggapi SBY. SBY balik menuding bahwa JK takabur karena merasa lebih baik. "Tidak perlu kita tunjukkan kalau kita lebih cepat, lebih baik atau lebih ini. Itu takabur namanya. Tidak baik, jadi hati-hati," ujar SBY, Minggu (10/5/2009) malam.
Soal ketegangan kedua tokoh ini sebenarnya bukan hal yang baru. Pada awal pemerintahan, keduanya dianggap saling bersaing untuk mencapai popularitas. Orang pun menyebut, ada dua Matahari dalam pemerintahan SBY-JK.
Padahal, keduanya masih harus menyelesaikan pemerintahan hingga presiden baru dilantik pada 20 Oktober 2009 nanti. Ketegangan demi ketegangan pun diprediksi bakal terus muncul. (anw/nrl)











































